Home / Profil / Sejarah

Sejarah

SEJARAH KEUSKUPAN PADANG

Sejarah dan perkembangan Keuskupan Padang tidak bisa dipisahkan dari sejarah masuk dan perkembangan misi Katolik dan Protestan di Pulau Sumatera. Secara ringkas sejarah perkembangan bisa dibagi dalam tiga bagian yang meliputi : Masa Prasejarah atau masa perintisan (Abad 7 – abad 18); Masa Penjajahan (1807 – 1952); Masa perkembangan – Masa Kini (1953 – sekarang).

Pra Sejarah – Masa Perintisan (Abad 7 – abad 18)

Berita pertama masuknya agama Kristen di Pulau Sumatera diperoleh pada abad VII dari buku catatan seorang musafir dari Arab dalam bahasa Arab sekitar tahun 645 SM. Catatan itu ada di Gereja St. Maria Barus dekat perbatasan antara Tapanuli Tengah dan Aceh. Masa itu memang Barus merupakan pelabuhan perdagangan yang sangat penting bagi orang-orang India (Malabar) yang datang untuk mencari kapur barus (damar kamfora). Diantara para pedagang itu ada yang beragama Kristen (Ritus Kaldea) dengan membawa serta para imamnya.

Pedagang dari Malabar (beragama Kristen/Katolik) ini lama kelamaan diganti oleh para pedagang dari Gujarat (beragama Islam). Mula-mula di Sumatera Utara kemudian meluas sampai ke bagian Timur Pulau Sumatera, ke sepanjang Selat Malaka.

Pada awal abad XVII, VOC masuk dengan membawa serta pedagang dari Belanda (yang umumnya beragama Kristen). Hal ini mengakibatkan terjadinya perang perdagangan antara Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Perang perdagangan ini mau tidak mau ikut mempengaruhi pula nasib agama Kristen/Katolik. Karena umumnya pedagang Belanda beragama Kristen, Portugis Katolik dan Inggris beragama Katolik Anglikan. Para pedagang dengan agamanya masing-masing ini lalu banyak yang mencari perlindungan pada penguasa setempat.

Dalam situasi peperangan dan penuh tantangan yang sangat berat ini, datang juga dua imam pada tahun 1639, yaitu: Dionisius dan Redemptus dari Ordo Karmelit. Di tempat lain pada tahun 1702-1764 rohaniwan dari Ordo Teatin berkarya di pemukiman orang Inggris di daerah Bengkulu dan sekitarnya.

Masa Penjajahan (1807 – 1952)

Awal abad XIX, pemerintah Hindia Belanda membubarkan VOC dan memberi izin pendampingan rohani bagi warganya yang beragama Katolik di wilayah jajahannya. Tahun 1807 didirikan Prefektur Apostolik Batavia. Bersama dengan itu tibalah para rohaniwan dari Belanda. Di Sumatera pada masa itu datang pula misionaris serikat MEP dari Perancis. Usaha rohaniwan MEP, yakni P. Candall di Padang tahun 1830 dan P. Vallon di Pulau Nias tahun 1832 ditentang oleh pemerintahan Kolonial Belanda yang mengharuskan ada izin dari pemerintah Belanda. Tahun 1837 terdapat pastor pertama yang bermukim di Padang bersama dengan orang Katolik yang terdiri atas tentara Belanda, pegawai sipil dan peranakan indo serta beberapa orang Tionghoa (tidak ada yang pribumi).

Tahun 1834 orang Protestan mengawali penginjilan di daerah Batak. Tetapi usaha mereka dicurigai sebagai mata-mata Belanda. Tahun 1853 datanglah seorang pastor di Tapanuli Selatan tetapi setahun kemudian  meninggal. Tahun 1854 pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan undang-undang tidak boleh mengadakan penyebaran Injil oleh dua Gereja di tempat yang sama sehingga daerah Sumatera terbagi-bagi antara penyebaran Katolik dan Protestan. Tahun 1857 orang Protestan mengawali di Tapanuli Selatan dan seorang Jerman tiba di Nias tahun 1865 selanjutnya meluas ke daerah Batak. Dengan bertambahnya orang-orang Katolik maka dibuka pula Paroki di Medan pada tahun 1878 kemudian disusul paroki-paroki lainnya.

Cikal bakal Keuskupan Padang

Pada pertengahan abad XIX, satu-satunya kota di luar Jawa yang umat katoliknya agak berarti adalah Padang. Kala itu Padang merupakan bagian dari Prefektur Apostolik Batavia (berdiri 8 Mei 1807), dan merupakan pusat stasi tertua di pulau Sumatera. Salah satu buktinya, Prefek Apostolik Belanda ketiga, Mgr. Y.H. Scholten, Pr (1830 – 1842) pernah datang ke Padang pada tahun 1834.

Ketika Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik (20 September 1842), Padang pun termasuk wilayah Vikariat ini. Dalam buku Baptis paroki Katedral tercatat bahwa Vikaris Apostolik Batavia kedua, Mgr. Petrus Maria Vranken, Pr (1847 – 1874) pernah melakukan kunjungan ke Padang dan membubuhkan tanda tangannya pada buku Baptis itu pada 3 April 1857 dan Vikaris Apostolik ketiga, Mgr. A.C. Claessens, Pr (1874 – 1893) juga pernah mengadakan kunjungan pastoral ke Padang pada 25 Juli 1879.

Pada 30 Juni 1911, Sumatera yang sebelumnya masih merupakan stasi Vikariat Apostolik Batavia, dipisahkan dari Batavia dan ditingkatkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik. Prefek Apostolik yang pertama adalah Mgr. Liberatus Cluts, OFMCap., yang diangkat pada 24 Mei 1912.  Kota Padang menjadi tempat kedudukan Prefek Apostolik. Pada waktu itu ada lima stasi di Sumatera, yaitu Padang, Kota Raja (Banda Aceh), Medan, Sungai Selan, dan Tanjung Sakti, dengan jumlah total umat sekitar 5000 orang.  Bersamaan dengan itu, oleh Serikat Jesus, Prefektur Sumatera diserahkan kepada imam-imam Kapusin.

13 Juni 1912, Mgr. Liberatur Cluts datang ke Padang, bersama empat orang imam Kapusin : P. Mattheus de Wolf, P. Camillus Buil, P. Agustinus Huijbregts, dan P. Remigius van Hoof. Kepada merekalah dipercayakan tugas untuk menggembalakan umat Katolik di seluruh Sumatera. Sebelumnya mereka telah berkarya beberapa tahun lamanya di Kalimantan. Pada Agustus 1912 jumlah mereka bertambah dengan datangnya seorang imam Kapusin dari Belanda.

Dalam masa karyanya 1911-1921, Mgr. Cluts memberikan perhatian wilayah pendampingan rohani orang Eropa, Eurasian, Tionghoa dalam kelima paroki yang sudah ada sejak abad 19 yaitu Padang, Sei Selam Bangka, Medan, Kotaraja Aceh dan Tanjung Sakti Pasemah. Selain itu, daerah di Sumatera Barat yang dikunjungi secara berkala adalah Bukittinggi, Padang Panjang, kemudian menyusul Sawah Lunto, Payakumbuh, serta Solok.

Mgr. Cluts meninggal tanggal 23 April 1921, pada usia 66 tahun, dalam perjalanannya dengan kapal dari Padang ke Bengkulu. Beliau dimakamkan di Padang. Untuk menggantikan beliau, P. Mattias L.T. Brans, OFMCap. yang sebelumnya telah berkarya di Tanjungsakti, Sumatera Selatan selama 8 bulan, diangkat menjadi Prefek Apostolik Sumatera, pada tanggal 20 Juli 1921.

Mgr. Brans, OFMCap. (1921-1954) mempunyai pandangan yang lain terhadap karya misi yang terarah pada suku-suku di Indonesia. Beliau menentang pelarangan dua Gereja (Katolik dan Protestan) berkarya di daerah yang sama. Ia mengajukan persoalan tersebut ke Belanda agar larangan tersebut dicabut. Perjuangan tersebut mendapat kemenangan tahun 1928 untuk Sibolga, tahun 1933 Tapanuli/Batak, tahun 1939 Pulau Nias.

Untuk meningkatkan perhatian dan pelayanan, tahun 1923 dipisahkan daerah Sumatera Selatan menjadi Prefektur Apostolik Bengkulu (selanjutnya Palembang), dan diserahkan kepada Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ). Sekaligus juga Bangka dan Billiton serta kepulauan Riau menjadi Prefektur Bangka dan Biliton dan dipercayakan karya pelayanan kepada Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC). Dengan pembagian ini, Prefektur Padang tinggal memiliki tiga stasi, yakni Padang, Medan, dan Kota Raja.

Pada 18 Juli 1932, Prefektur Apostolik Padang (1911) ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Padang. Karena kemajuan ekonomi di Medan dan perkembangan karya misi di tanah Batak, Mgr. Brans mengusulkan kepada Tahta Suci (Vatikan) agar Vikariat Apostolik Padang diubah menjadi Vikariat Apostolik Medan, dan kedudukan Vikaris Apostolik di pindahkan ke Medan. Pada tanggal 23 Desember 1941, Tahta Suci menyetujui perubahan dan perpindahan itu.

Akan tetapi, sebelum keputusan Tahta Suci itu sampai di tangan Mgr. Brans, pecah Perang Dunia II. Dalam bulan-bulan pertama 1942, Hindia Belanda telah diduduki tentara Jepang. Tanggal 17 Maret 1942, Jepang masuk kota Padang. Mgr. Brans dan  semua rohaniwan diinternir di Bangkinang sampai dengan tahun 1945. Agustus 1945 Perang Dunia berakhir. Mgr. Brans dan para rohaniwan dibebaskan. Keputusan Tahta Suci sampai ke tangan Mgr. Brans.

Pada 3 Januari 1946, Mgr. Brans berpindah dari Padang ke Medan. Namun situasi sulit kembali terjadi karena berkobarnya revolusi menyusul diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Akibatnya para imam, walau sudah dibebaskan, tidak dapat segera kembali ke paroki mereka masing-masing. Karya baru dapat dimulai lagi antara tahun 1946 – 1949.

Karena kekurangan tenaga imam Kapusin, Mgr. Brans berusaha mencari tenaga bantuan, yang akhirnya datang dari Serikat Xaverian (SX). Pada 24 Juli 1951 tibalah di Padang 8 orang Misionaris Xaverian pertama berkebangsaan Italia. Mereka adalah P. Mario Boggiani, P. Lorenzo Lini, P. Pietro Spinabelli, P. Antenore Nardello, P. Pio Pozzobon, P. Oddo Galeazzi, P. Aurelio Canizzaro, dan P. Vincenzo Capra.  Mereka terusir dari Cina karena situasi politik (komunis) saat itu. Bersamaan dengan itu, SX diserahi Sumatera Tengah sekaligus menggantikan Kapusin yang lebih memperhatikan karya di daerah Batak dan Nias.

Setelah 33 tahun berkarya, pada tahun 1954, Mgr. Brans mengundurkan diri dan kembali ke negeri Belanda. Ia sempat mengungkapkan penyesalannya karena kurang memberikan perhatian terhadap suku Mentawai dan mengusulkan pembukaan paroki Pekanbaru di Riau serta perhatian terhadap transmigran dari Jawa.

Pada 27 Juni 1952, Prefektur Apostolik Padang didirikan. Wilayah Prefektur baru ini dipisahkan dari wilayah Vikariat Apostolik Medan. Mgr. Pasquale. De Martino, SX ditunjuk sebagai Prefek Apostolik Padang yang pertama. Beliau berkarya cukup lama dan dipenjara selama 6 bulan dalam Rezim Ma Tse Tung. Dalam bulan April 1953, beliau baru bisa datang ke Indonesia. Masa bakti Mgr. P. De Martino, SX berlangsung selama 8 tahun, yaitu 27 Juni 1952 – 3 Januari 1961. Mgr. De Martino diberi julukan “Raksasa berhati lembut”.

Sebagai Prefek Apostolik, beliau mengawali kerjanya dengan mengutus P. A. Cannizarro, SX untuk menjajaki pembukaan pelayanan di Kepulauan Mentawai pada tahun 1953. P. R. Danieli, SX diutus ke Pekanbaru Riau, P. Pietro Spinabelli, SX merintis kerasulan di wilayah transmigrasi Pasaman, Tongar dan Desa Baru sambil mengurus Paroki Bukittinggi.

Keuskupan Padang

Pada 3 Januari 1961, Prefektur Apostolik Padang ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan Padang. Mgr. Raimundo C. Bergamin, SX dipilih menjadi Uskup Padang pertama tanggal 16 Oktober 1961 dan ditahbiskan Uskup tanggal 6 Januari 1962 di gereja St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Padang. Mgr. Bergamin lalu menetapkan gereja St. Theresia sebagai gereja Katedral Padang.

Pada masa ini terjadLogo Keuskupan Padang1i pergolakan politik di wilayah Keuskupan Padang dan juga di tempat-tempat lain. Misalnya di Wilayah Sumatera Barat muncul pemberontakan PRRI disusul G 30 S PKI dengan lahirnya Orde Baru. Dalam masa-masa penuh pergolakan ini banyak sekali tantangan muncul.

Dalam kata sambutan pentahbisannya, Mgr. Bergamin sempat berkata, “ Saya adalah uskup pertama Keuskupan Padang, tetapi saya sangat mengharapkan bahwa saya adalah uskup yang terakhir, yang diambil dari orang asing. Uskup Padang yang akan menggantikan saya haruslah orang Indonesia”. Dambaan tersebut menjadi kenyataan pada tanggal 11 Juni 1983 ketika Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap. ditahbiskan sebagai Uskup kedua di Keuskupan Padang.