Home / Berita / Kepemimpinan Yang Sederhana dan Penuh Belas Kasih (Rawil Riau April 2016)

Kepemimpinan Yang Sederhana dan Penuh Belas Kasih (Rawil Riau April 2016)

IMG_0158 Para imam dan seorang bruder  dari 10 Paroki Wilayah Riau berkumpul di Pastoran Paroki Santo Ignatius – Pasir Pangaraian untuk mengikuti pertemuan para Imam Rawil Riau, 12-13 April 2016 lalu. Pertemuan diawali rekoleksi yang dihantarkan oleh P. Riduan Fransiskus Naibaho, Pr. ketua Komisi Komunikasi Sosial dan juga ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang dengan judul “Miserando Atque Eligendo”.  Dalam pemaparannya P. Riduan menjelaskan bahwa judul ini merupakan motto dari Paus Fransiskus ketika diangkat menjadi uskup di Argentina dan bagaimana Paus Fransiskus menghidupi mottonya.

Miserando Atque Eligendo berasal dari kutipan tulisan Santo Beda Venerabilis yang bisa diartikan karna berbelas kasih maka  Dia memilih. Seperti Mateus yang dipilih bukan karena dia hebat, tetapi dipilih karena berbelaskasih”ungkap Pastor Riduan. Lebih jauh Imam Diosesan Keuskupan Padang ini bercerita mengenai kehidupan masa kecil Paus Fransiskus di kota Buenos Aires,  Argentina hingga panggilannya menjadi seorang imam. Ia berasal dari keluarga sederhana, memiliki pemikiran dan perkataan yang sederhana, dan melakukan tindakan-tindakan untuk orang yang sederhana adalah hal yang patut direnungkan dan dicontoh dari Paus ke-266.

Kehidupan yang sederhana itu telah mendarah daging hingga Paus Fransiskus menolak segala apa yang berkaitan dengan hal-hal yang nikmat.  Dia menolak tinggal di Istana Uskup Agung yang megah di Argentina, menolak menggunakan cincin emas, dan menggantinya dengan perak, menolak mobil paus yang sudah dirancang khusus dan mewah, dan bahkan ketika masih jadi uskup, dia sering menempuh perjalanan dengan angkutan umum bus dan kereta api. “Umatku adalah orang-orang miskin, dan saya adalah salah seorang dari mereka” jawab Paus tentang kesederhanaannya”. Lebih lanjut P. Riduan mengatakan “hanya dengan menghidupi kesederhanaan inilah, maka terang injil akan bisa dirasakan oleh orang banyak”. Diakhir pemaparannya, Pastor Riduan mengajak para Imam yang hadir untuk kembali merenungkan bagaimana memaknai panggilan imam untuk masa saat ini: Kita adalah Imam Allah di tengah umat dan imam umat di hadapan Allah.

Umat dan OMK yang Berkobar-kobar.

IMG_0176Setelah rekoleksi berakhir, para imam yang hadir mengikuti perayaan ekaristi bersama umat di gereja Paroki Santo Ignatius, Pasir Pangaraian dipimpin oleh Pastor Benny Benedictus Manullang, Pr. Dalam homilinya Pastor Benny menguatkan umat yang hadir untuk mencontoh Stefanus yang berani bersaksi tentang Kristus Yesus sampai menyerahkan nyawanya. Dengan menerima Roti kekal yaitu tubuh Yesus sendiri, kita telah dikuatkan dan diberi keberanian. “Ketika dulu gereja ini dikepung oleh banyak orang, umat berani dan berkobar-kobar untuk mempertahankannya. Tapi kita lihat sekarang, apakah umat masih berkobar-kobar dan penuh semangat dalam menjalani kehidupan rohaninya?”ungkap P. Benny.

Ia juga mengajak umat untuk tidak saling menyalibkan dengan perselisihan, namun saling mendoakan seperti Stefanus mendoakan orang yang menyiksanya. Berkobar-kobar dalam semangat paskah, menjadi penerang bagi sesama. Seusai misa, para pastor, bruder, suster dan seluruh umat yang hadir, makan malam bersama dalam suasana yang penuh keakraban. Di awal hari kedua pertemuan, Pastor Riduan sebagai ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang mensosialisakan tentang Indonesian Youth Day (IYD) dan Diocese Youth Day (DYD). IYD merupakan kegiatan Hari Orang Muda Katolik se-Indonesia yang akan diikuti Orang Muda Katolik (OMK) dari keuskupan-keuskupan se-Indonesia. IYD akan diadakan di Menado pada tanggal 1-6 Oktober 2016. Dalam pertemuan ini setiap paroki diminta untuk mengirim 2- 4 orang utusan.

IMG_0193Sedangkan DYD merupakan pertemuan OMK se-Keuskupan Padang yang direncanakan akan diadakan di Paroki Santa Maria Diangkat Ke Surga, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai pada tanggal 2-8 Juli 2016. Untuk DYD ini, setiap paroki diminta mengirim sebanyak 20-22 orang OMK utusannya. Banyak usulan dan pertanyaan mengenai proses, transportasi, waktu hingga dana kegiatan tersebut. Dalam pembicaraan ini terungkap juga bahwa OMK Rawil Riau akan mengadakan pertemuan bersama di Sekolah Yayasan Marsudirini, Perawang pada tanggal 23-26 Juni 2016. Para imam menyadari waktu yang terlalu berdekatan, tetapi mereka yakin OMK akan memiliki tenaga dan semangat  lebih untuk bertemu dan saling berbagi iman dan pengalaman dalam kegembiraan.

Kepemimpinan yang Penuh Belas Kasih

Pembicaraan mengenai OMK selesai, pertemuan para imam dilanjutkan dengan sesi pendidikan yang dibawakan oleh P. Paulus Dryan Suwandi, SCJ. yang mengangkat tema kepemimpinan yang penuh belas kasih. Pastor Dryan memulai pemaparannya mengenai makna istilah belas kasih dalam Kitab Suci yang seringkali ditulis “tergerak hati oleh belas kasihan”. Dalam perjanjian lama, belas kasih Allah timbul dari seruan umat-Nya. Sedangkan pada Perjanjian Baru, diawali melihat, dan apa yang dilihat Yesus ini menggerakkan hati-Nya. “Kasih setia semestinya menjadi dasar umat beriman, bukan hanya sekedar upacara keagamaan yang dipraktekkan. Hal ini terpancar dari perkataan Yesus tentang perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Bagaimana orang Samaria itu berpatisipasi dalam belas kasih Allah dari melihat, lalu bertindak menyelamatkan.”ungkap Pastor Dryan.

IMG_0198Lebih jauh dia menyampaikan gagasan kepemimpinan yang penuh belas kasih sebenarnya lahir dari suatu keprihatinan yang mendasar dalam kehidupan Gereja. Keprihatinan ini menyangkut semangat pembaharuan oleh Gereja Universal seperti yang tercantum dalam Konsili Vatikan II. Namun pembaharuan ini masih terhambat oleh sikap manusia lama yang tidak mau meninggalkan cara masa lalu termasuk juga di dalamnya teolog-teolog handal. Akibatnya banyak teolog yang disuspend dan tidak lagi diajak berbicara. Reaksi yang muncul ini mengatakan bahwa perwujudan impian Vatikan II belum memenuhi harapan semua orang dalam Gereja. Disamping itu semua, masih banyak tantangan-tantangan lain yang harus dihadapi Gereja seperti penurunan kualitas kepemimpinan dan tanggung jawab, korupsi, situasi dan budaya Gereja lokal, kemiskinan, perang, dialog antar agama dan perubahan alam.

Semenjak tahun 70-an Paus Paulus VI telah menyerukan tentang evangelisasi yang bertujuan sebagai cara baru menggereja dijaman ini sehingga inijil semakin nyata terdengar di tengah umat jaman ini. Di sisi lain, Paus Fransiskus merefleksikan agar cita-cita Konsisli Vatikan II tercapai, maka umat beriman harus semakin berbelaskasih dan berani untuk berubah. Semuanya itu tergantung pula dalam cara kepemimpinan para imam yang menjadi gembala umat. Bapa Suci juga mengingatkan Gereja akan pentingnya belaskasih Allah  dalam menghadapi hidup dan pastoral dalam arti kenyataan yang sangat kompleks. Seperti menghadapi kehidupan keluarga yang gagal, persoalan kemiskinan, ketidakadilan dan persoalan moral. Di akhir pemaparannya Pastor Dryan mengajak para imam yang hadir untuk lebih berani berkotor  dan direpoti oleh masalah-masalah kehidupan Gereja yang nyata dengan penuh belas kasih, untuk memanusiakan manusia.

Sesi siang itu dilanjutkan dengan sharing permasalahan-permasalahan yang dihadapi para imam di paroki atau stasinya. Kembali terlontar masukan, pengalaman, dan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi semua masalah tersebut. Semua dibicarakan dengan santai, hangat dan penuh keakraban. Setelah santap siang bersama , para imam kembali ke parokinya masing-masing. (Silvianus Irwan Laoli)

About

Check Also

Ekaristi Minggu Prapaskah II, 17 Maret 2019

Menghayati Ekaristi dalam Hidup Sempat bertemu dengan seorang guru yang sungguh baik amatlah menguntungkan bagi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *