Home / PAROKI / Wilayah Riau / St Maria Ratu Rosari – Bagan Batu

St Maria Ratu Rosari – Bagan Batu

bgnbatu

SEJARAH PAROKI

gereja luar - CopyBaganbatu, semula bagian dari wilayah pelayanan pastoral Paroki Santo Yosef Duri.  Pelayanan pastoral di wilayah ini dilakukan pastor dari Duri – dengan menempuh perjalanan puluhan hingga ratusan kilometer. Maka pangkal sejarah paroki, termasuk misalnya data baptisan umat tidak ditemukan di Buku Baptis di paroki Baganbatu, mesti dirunut ke Paroki Duri.

Tahun 1997,  saat P. F.X Hardiono Hadisubroto, Pr sebagai pastor paroki Duri melayani umat bersama seorang pastor dari Keuskupan Larantuka, P. Florianus Waor Wudjon, Pr. Wilayah pelayanan berkembang pesat, seiring dengan berkembangnya kota dan pembukaan lahan perkebunan kepala sawit, terutama di wilayah Balam.  Tahun 1999,  P. F.X  Hardiono dipindahkan ke Paroki Katedral Padang, P. Flori diangkat menjadi Pastor Paroki dibantu seorang iman  dari Keuskupan Agung Ende P. Egidius Pareira, Pr.

Sesuai dengan rencana Keuskupan Padang,  stasi Santa Maria Baganbatu dipersiapkan menjadi paroki. Maka pada tahun 2000, Uskup Padang mengangkat P. Egidius Pareira, Pr. untuk bertugas khusus di Baganbatu dan sekitarnya. Stasi ini menjadi kuasi (calon) paroki. Saat P. Egidius Pareira, Pr. datang ke Baganbatu, pastoran belum dibangun. Untuk sementara,  pastor tinggal di rumah umat sebelum bermukim di kantor SD Yosef Arnoldi selama enam bulan.

Terobosan pastoral dijalani gembala perdana ini dengan mengunjungi umat Katolik yang terpencar-pencar sampai ke tempat terpencil perbatasan propinsi Riau dan Sumatera Utara. Dalam pebelurusannya, P. Egidius banyak menemukan keluarga umat Katolik yang bermukim di LTS, Simpang Badak, HTI, Simpang Manggala, Tanjung Medan, Tanjung Sari, Sei Balam. Dalam waktu kurang lebih dua tahun,  jumlah stasi berkembang dari 7 menjadi 14 stasi.  

Sebagai perintis, P. Egidius Pareira, Pr.  berhasil meletakkan dasar konstruksi pastoral dengan:  Menjalin kerjasama yang sinergik dengan semua institusi.  Merumuskan konstruksi berpikir yang terarah untuk terbentuknya paroki. Mengunjungi umat yang sulit dijangkau dalam pelayanan pastoral. Menyiapkan personil Dewan Pastoral Paroki perdana. Meningkatkan kualitas keimanan dan kehidupan sosial kemasyarakatan umat Katolik.

Hari Jadi Paroki

Hari Minggu, 20 Oktober 2002 menjadi tonggak sejarah baru di Baganbatu. Pada hari itu, Mgr. Martinus Dogma grj_baganbatu_luarSitumorang, OFMCap meresmikan kuasi paroki ini menjadi paroki dengan nama Paroki Santa Maria Ratu Rosario. Umat Katolik dari berbagai penjuru wilayah paroki berkumpul mensyukurinya dengan perayaan iman bersama. Dalam kunjungan pastoral ini, Bapa Uskup melantik  Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) perdana. P. Egidius Paraira, Pr sebagai Pastor Paroki perdana di Baganbatu.  

Personil anggota DPP direkrut dari tiga stasi terdekat, yaitu: Stasi (Santa Maria, Santa Maria Paket B, dan Santo Paulus Baganbatu). Lingkungan stasi pun dikembangkan menjadi beberapa lingkungan. Di stasi pusat dikelompokkan ke dalam 5 lingkungan (St. Thomas Aquinas, St. Mikhael, St. Theresia, St. Anselmus dan St. Agustinus), di Stasi St. Paulus Baganbatu menjadi 3 lingkungan. Pembagian lingkungan ini memudahkan kinerja DPP dalam memberikan pembinaan umat yang mengarah pada pengembangan Komunitas Basis Gerejawi.

Selama mempersiapkan terbentuknya paroki hingga memimpin selama 2 tahunan, P. Egidius berhasil menata dan mengemas secara komplit dan konfrehensif perangkat pastoral di sektor:  kelembagaan dan organisatoris, ketenagaan, dukungan:  dana dan ekonomi umat, teritorial dan jumlah umat, sarana dan fasilitas, dan sumber daya manusia dan kwalitas pelayanan.

Tahun 2004, terjadi pergantian tenaga pelayan umat.  P. Otto Processus Hasugian, Pr. ditunjuk Bapa Uskup sebagai pastor paroki (kedua)  menggantikan P. Egidius. Untuk mendukung karya pelayanan yang semakin luas dan besar ini, Bapa Uskup mendatangkan seorang imam dari Keuskupan Agung Ende Flores P. Dominikus De Dowa, Pr. (2005). Dalam kendali kedua imam inilah lahir gagasan menyegarkan panitia pembangunan gereja paroki yang diketuai B. Sihotang. Dengan dana  Rp. 19.985.200, 00 panitia baru mulai bekerja. Semua pekerjaan panitia mesti bisa dilihat oleh umat, sehingga umat pun tersentuh untuk bergerak bersama. Panitia tidak mungkin bekerja sendirian.

Maka dengan dana yang ada (Rp  ± 20 juta), panitia mulai membelanjakan kebutuhan material pembangunan seperti semen, batu, pasir dan kerikil, agar umat mulai menyaksikan bahwa pembangunan gereja sudah dimulai. Pancingan ini pun berhasil menarik perhatian umat untuk membantu. Peletakan batu pertama pembangunan gereja paroki (di samping gereja lama) dilakukan oleh Bapa Uskup. Upacara ini selain  umat,  juga hadir  pejabat terkait termasuk Ketua RT dan Ketua RW di sekitar pastoran. Di bawah komando Ir. Oloan Tamba,  secara bertahap pembangunan gereja berjalan hingga 90% siap menjelang pemberkatan oleh Bapa Uskup. Anggaran pun terus mengalami perubahan mulai dari Rp 1,3 milyar hingga ± Rp 3 milyar.

Wilayah  Paroki St. Maria Ratu Rosario berada di tengah areal perkebunan, dengan  medan yang sulit; pada musim hujan licin, musim kemarau berdebu. Stasi terjauh dari pusat paroki adalah Stasi Batang Kumu dan Stasi PT Jatim (± 80 km),  Stasi Kt. 3 Bukit Harapan (± 60 km).  Untuk memudahkan pelayanan pastoral stasi yang terpencar-pencar sangat jauh dibagi menjadi 5 wilayah, yaitu: Baganbatu, Balam, Tanjung Medan, Kencana dan Mahato. Dari kelima wilayah ini dibagi menjadi 29 stasi. Sedangkan dua stasi yang memiliki lingkungan Stasi St. Maria (Pusat Paroki) dibagi menjadi 5 lingkungan,  yaitu:  St. Thomas Aquinas, St. Mikael, St. Theresia, St. Anselmus,  dan St. Agustinus.  Stasi St. Paulus dibagi menjadi yaitu:  Lingkungan (I, II dan III).

Kelompok-kelompok kategorial yang baru tumbuh di paroki ini adalah Wanita Katolik, Orang Muda Katolik. Organisasi massa (ormas) Katolik belum ada. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan adimistrasi (surat menyurat) dairi umat dilayani satu tenaga sekretariat bekerja fulltime.

Umat Terus Bertambah

Sejak berdirinya paroki ini jumlah umat terus bertambah dari 300-an KK dan hingga kini 700-an KK. Pada masa awalnya, pertambahan umat kebanyakan pendatang dari Jawa. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, karena wilayah ini terus berkembang pendatang dari Suku Batak juga semakin banyak dan bahkan menjadi kelompok umat grj_bgnbatu_dalamterbesar di paroki ini menyusul suku Jawa, Flores,  dan Thionghoa. Pertambahan warga paroki, selain pendatang juga dari baptisan baru dan penerimaan dari Gereja Protestan yang hampir selalu terjadi setiap bulan di stasi-stasi.  Mata pencaharian umat paroki ini: petani perkebunan sawit (15%), buruh perkebunan (65%), pedagang (10%), guru/pegawai (3%), lain-lain (7%).

Perkembangan dan perluasan wilayah kota dan letaknya  yang strategis di perlintasan jalur trans Sumatera menjadi daya tarik tersendiri bagi para perantau untuk ke Baganbatu. Kedatangan para perantau musiman atau menetap tak bisa dibendung, ibarat semut Baganbatu adalah pusat gula dan sumber-sumbernya. 

Meskipun perkembangan umat cukup pesat, ternyata bukan jaminan untuk secara aktif kreatif dalam mengikuti kegiatan menggereja. Bisa dimaklumi karena umat yang bekerja sebagai pedagang keliling dan karyawan perkebunan, waktu mereka sangat sempit untuk mengikuti kegiatan. Karena jauh jarak stasi dan paroki, kehadiran umat untuk rapat-rapat atau kegiatan di paroki sering tidak bisa mencapai 100%.

Karya pastoral yang berjalan di paroki, yaitu:katekese di bidang kepemimpinan bagi pengurus, pembekalan para pengurus dengan materi sakramen-sakramen,  pendampingan kaum ibu (pusat paroki dan stasi), pendampingan anak-anak dilaksanakan oleh orang muda, kelompok remaja oleh orang tua (guru), dan OMK didampingi petugas pastoral. Di bidang pengembangan sosial ekonomi ada CU di bawah Seksi Sosial Paroki (SSP).

Di bidang pendidikan ada sekolah Katolik dari TK hingga SMA di bawah Yayasan Prayoga Pekanbaru. Minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik sangat besar. Hal ini menuntut pihak pengelola agar tetap menjadi komitmennya sehingga kualitas pendidikan tidak menurun. Di tengah ketatnya persaingan saat ini, sekolah Katolik  tidak boleh terlena karena bayang-bayang masa lalu.

Pelayanan bidang kesehatan yang ditangani Yayasan Salus Infirmorum Pekanbaru pun demikian. Baganbatu yang berpotensi  berkembang menjadi kota besar dan modern membutuhkan fasilitas untuk pelayanan jasa yang menjawabi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab  itu, pelayanan di bidang kesehatan berpeluang besar untuk berkembang tanpa harus mengesampingkan masyarakat yang kurang beruntung.

Di banyak tempat, umat Katolik adalah bagian kecil dari masyarakat tempat mereka berdomisili. Meskipun demikian, umat Katolik berusaha  ambil bagian dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat.  Kebersamaan dengan Gereja lain (ekumene) juga terjalin dengan baik. Situasi di perkebunan dengan kehidupan majemuk menantang untuk terjalinnya kerjasama dalam banyak hal. Doa-doa rutin dengan pengkotbah yang bergantian terlaksana. Okumene dalam perayaan-perayaan besar juga terjadi dengan pergantian tuan rumah. Para pejabat Gereja dipersatukan dengan wadah Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG).  

klik di sini