Home / PAROKI / Wilayah Riau / St Yohanes Pembapis – Perawang

St Yohanes Pembapis – Perawang

perawang

Sejarah

Keberadaan Gereja Katolik Paroki St. Yohanes Pembaptis di Perawang tidak lepas dari suka dan duka yang mewarnai sejarah awal hingga hari ini dan sudah pasti besok dan selanjutnya masih harus diperjuangkan terus menerus.
Kota Perawang dulunya merupakan bagian dari wilayah administratif Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Namun sejak kabupaten tersebut dimekarkan ke Kabupaten Siak, maka saat ini Perawang masuk dalam wilayah Kabupaten Siak. Jarak antara kota Siak Sri Indrapura dan kota Perawang ± 80 km sementara dari kota Perawang ke kota Pekanbaru ± 58 km.
Dengan adanya beberapa perusahaan besar yang beroperasi di Perawang, membuat kota ini ramai didatangi oleh para pencari kerja dari berbagai belahan bumi nusantara dan asia seperti pekerja asing dari China, Korea, Taiwan dll. Diantara para pencari kerja dan pekerja ini khususnya pekerja Indonesia banyak juga yang beragama Kristen seperti HKBP, Pentakosta, GPIB, Katolik dll. Maka umat Tuhan dari beragam denominasi gereja tersebut sama – sama merindukan kebersamaan untuk memuji Tuhan.
Meskipun belum ada tempat khusus beribadat bagi mereka yang percaya kepada Kristus bukan halangan bagi mereka untuk bersatu memuji Tuhan. Maka diputuskanlah untuk mengadakan doa bersama sama di rumah – rumah keluarga Kristen secara bergiliran. Dari hanya 3 – 4 orang yang awalnya berkumpul untuk mengikuti doa berkembang hari demi hari terus bertambah dan lahirlah gereja oikumene.
Baru pada tahun 1988 beberapa umat Katolik sepakat untuk berdoa secara Katolik dan tersendiri yang diprakarsai dan dipimpin oleh Bapak Sihombing & Bapak Sitohang . Ibadat sabda dengan panduan yang amat sederhana berjalan dengan lancar dengan jumlah umat ± 20 orang. Setelah didata ternyata keluarga Katolik sudah ada 7 KK inilah umat perdana gereja Katolik di Perawang ini.
Terdorong oleh semangat cinta dan kasih pada Tuhan lewat ibadah dan doa bersama maka beberapa umat kita ini pergi berkunjung ke Paroki St. Maria A. Fatima Pekanbaru untuk memohon kepada Pastor paroki (waktu itu P. Guido Pauluci, SX). Permohonan utusan umat Perawang itu diterima dengan penuh sukacita oleh Pastor. Dan umat Katolik di Perawang akan dilayani sebagaimana mestinya oleh paroki tersebut. Pada bulan Agustus 1988, perayaan ekaristi pertama diadakan di tengah – tengah umat Katolik Perawang, yang bertempat di rumah umat dipimpin langsung oleh P. Guido Pauluci,SX.
Berhubung saat itu transportasi dan jalan yang sulit dan juga terbatasnya tenaga imam maka misa di Perawang diadakan sekali sebulan saja dan selebihnya diadakan ibadat sabda setiap hari Minggu yang dipimpin oleh pengurus stasi. Meskipun demikian hal ini sudah membuat umat sangat bersyukur.
Pada tahun 1988 digagas oleh Pastor, umat diajak untuk mencari sebidang tanah yang kelak dapat digunakan untuk lokasi pembangunan gereja. Bagai gayung bersambut, umat antusias mendukung gagasan tersebut dan diputuskanlah untuk membeli tanah dengan ukuran 100 m x 50 m, dengan kondisi masih ditumbuhi oleh pohon – pohon karet yang masih produktif dengan harga 9 juta rupiah.
Seiring dengan pertumbuhan umat yang berkembang menjadi 23 KK yang kebanyakan adalah para kaum muda pencari kerja, maka rumah – rumah umat saat itu tidak bisa lagi memuat umat untuk mengadakan misa maupun ibadat sabda. Maka pada tahun 1989 tanah yang telah dibeli tadi direncanakan untuk dibangun sebuah gereja kecil (kapel) dengan keyakinan jika semangat menyala dan mau dituntun oleh roh Allah apapun bisa dikerjakan. Berbekal semangat itu umat pun mulai berswadaya dengan antusias untuk mengumpulkan biaya pembangunan gereja. Umat pun bersemangat bergotong royong menebang pohon – pohon karet dan membersihkan lahan yang telah dibeli sebelumnya, meskipun memerlukan waktu yang cukup lama.
Puji Tuhan umat paroki Pekanbaru pun memberi support untuk rencana pembangunan gereja tersebut khususnya Ibu Betty yang merupakan seorang pengusaha konstruksi, tidak tanggung – tanggung juga memberi bantuan dan dukungan yang sangat berarti. Dan pada tahun 1990 dimulailah pembangunan gereja dengan ukuran 16 m x 8 m dan dapat diselesaikan pada tahun yang sama. Gereja tersebut kemudian diresmikan oleh Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap pada bulan Oktober 1991.
Seiring dengan pemekaran paroki St. Maria A. Fatima Pekanbaru lahirlah paroki St. Paulus Labuh Baru pada tanggal 12 September 1999 dan sejak saat itu stasi Perawang menjadi bagian dari paroki St. Paulus Labuh Baru.
Tahun – tahun berikutnya, seiring dengan pertumbuhan kota industri Perawang yang cukup berkembang pesat maka umat stasi Perawang pun ikut mengalami pertumbuhan yang cukup pesat pula. Hal ini menjadi pemikiran bagi pengurus stasi dan Pastor paroki saat itu yakni Pastor Yohanes Lazary, SX untuk membangun gereja yang lebih besar. Namun karena situasi nasional saat itu yang masih sulit untuk pengurusan izin rumah ibadat dan kendala dalam keterbatasan dana gereja, maka pemikiran itu belum dapat ditindak-lanjuti.
Pada tahun 2005 jumlah umat sudah mencapai ± 390 KK dengan Bina Iman Anak (BIA) berjumlah ± 300 jiwa dan kaum muda berjumlah ± 100 jiwa, yang terdiri dari multi etnis seperti : batak, jawa, flores, timor, nias, tionghoa, dan dayak. Ini benar – benar panenan yang berlipat ganda, dimana pada tahun 1988 hanya terdiri dari 7 KK. Karena perkembangan umat tersebut, gereja yang ada saat itu tidak lagi dapat menampung umat yang sudah cukup banyak itu. Bahkan pada saat ibadat sabda atau misa lebih banyak umat yang terpaksa harus duduk di luar gereja untuk mengikuti ibadah. Terdorong oleh situasi yang sudah sangat memprihatinkan ini, pengurus stasi dengan Pastor Germano Framarin, SX yang sebelumnya telah menggantikan Pastor Yohanes Lazary, SX sepakat untuk membangun gereja baru yang lebih besar dengan segala tantangannya.
Selanjutnya, untuk memulai pembangunan gereja, pengurus stasi dan umat membicarakan lokasi dibangunnya gereja yang baru. Setelah beberapa kali pertemuan tidak diperoleh kesepakatan disebabkan sebagian umat dan pengurus gereja menginginkan pembangunan di lokasi yang baru dengan pertimbangan lokasi gereja yang lama kurang strategis dan akses jalan pun cukup sempit. Namun sebagian umat dan pengurus lain menginginkan supaya tetap dibangun di lokasi yang lama dengan pertimbangan masih diperlukan usaha untuk mencari lokasi yang sesuai dan biaya untuk membeli tanah di lokasi yang baru pun tidak ada. Kemudian juga lokasi gereja yang lama dirasakan cukup dekat dengan rumah umat pada umumnya pada saat itu. Dan akhirnya karena tidak adanya kesepakatan umat dan pengurus maka ketua stasi (Bpk. S. Tumanggor) melaporkan kepada Pastor Germano Framarin, SX dan dewan paroki. Kemudian Pastor Germano Framarin, SX dan dewan paroki mengadakan pertemuan dengan panitia pembangunan beserta seluruh dewan stasi dan pengurus lingkungan. Untuk dilakukan voting yang dipandu oleh Pastor Germano Framarin, SX dan dewan paroki St. Paulus Labuh Baru. Hasil voting diputuskan bahwa pembangunan gereja baru ditempatkan di lokasi gereja lama.
Setelah adanya keputusan tersebut maka panitia pembangunan segera bekerja untuk membangun gereja baru di lokasi lama dengan ukuran 14 m x 32,5 m dengan estimasi biaya ± 1,4 milyar. Berkat keuletan umat Perawang yang memang merupakan para perantau yang tidak kenal menyerah, maka pembangunan gereja baru ini pun dapat dilaksanakan dan dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap pada tanggal 27 April 2005. Pembangunan gereja baru sempat mengalami kendala karena izin mendirikan bangunan belum juga keluar. Dengan kesabaran dan keuletan pengurus akhirnya Tuhan menunjukkan anugerah-Nya sehingga pada bulan Desember 2005 gereja kita sudah mendapatkan IMB.
Dengan kebersamaan dan kerja keras pengurus dan umat serta Pastor paroki dan dibantu oleh para donatur – donatur yang bermurah hati, maka pembangunan gereja yang baru pun dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap pada tanggal 28 Juni 2008.
Setelah digunakannya gereja yang baru yang jauh lebih besar, perayaan ekaristi dan juga perayaan ibadat sabda di stasi Perawang semakin dapat diikuti oleh umat dengan baik. Pengurus dan umat semakin bersemangat dalam memupuk iman dan pada akhirnya pada hari ini atas berkat dan karunia Tuhan Stasi St. Yohanes Pembaptis Perawang telah diberkati dan diresmikan menjadi Paroki St. Yohanes Pembaptis Perawang. Semoga berkat ini semakin menambah pengharapan dan semangat bagi kita semua khususnya umat di Perawang.

Perawang, 15 September 2013

S. Tumanggor

klik di sini