Home / Berita / Pendalaman Kitab Suci Orang Muda Katolik (BKSN 2018)

Pendalaman Kitab Suci Orang Muda Katolik (BKSN 2018)

MEWARTAKAN

KABAR GEMBIRA

DALAM KEMAJEMUKAN

Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (Mrk. 16:15)

Pendalaman  Kitab Suci

Orang Muda Katolik

(BKSN 2018)

 

 

Pendahuluan

Dalam pertemuan nasional (Pernas) yang diadakan pada tanggal 18-22 Juli 2016 di Sawangan, Bogor, Lembaga Biblika Indonesia (LBI) sepakat untuk mengusung sebuah tema besar “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman” sebagai arahan selama empat tahun ke depan. Tema itu kemudian dijabarkan dalam empat tema yang lebih spesifik yang akan direnungkan terutama dalam Bulan Kitab Suci Nasional selama empat tahun menda­tang. Adapun keempat tema itu adalah sebagai berikut:

  • Mewartakan Kabar Gembira dalam Gaya Hidup Modern (2017)
  • Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan (2018)
  • Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup (2019)
  • Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas Diri (2020)

Tema pertama sudah kita renungkan selama bulan September 2017. Sekarang ini kita memasuki tema yang kedua, yaitu Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan. Sebagaimana biasa, tema ini akan dibagi dalam 4 pertemuan mingguan dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional. Tulisan ini, yang bisa diperlakukan seba­gai Gagasan Pendukung, mau menempatkan permenu­ngan atas tema itu dalam konteks Gereja Indonesia.  Oleh karena itu, Gagasan Pendukung ini akan diawali dengan refleksi tentang Gereja Indonesia dan panggilan mewartakan Injil sebelum nanti dilanjut­kan dengan pembahasan bahan-bahan yang merupakan barang khas Bulan Kitab Suci Nasional.

 Kata Pengantar

Usaha memahami teks hendaknya disertai dengan pengertian mengenai konteks. Dengan mengetahui konteks, kita akan lebih mudah mengerti pesan dari sebuah teks. Dalam konteks yang berbeda, inspirasi bisa berbeda pula bagi setiap pembaca. Dalam membaca Kitab Suci, pembaca harus juga memahami konteks hidupnya sehingga dapat menemukan inspirasi yang berguna. Sebagai warga negara Indonesia, kita menyadari bahwa Indonesia memiliki kemajemukan agama, golongan, budaya, suku, bahasa, dan ekonomi.  Ribuan pulau di bumi Nusantara menciptakan keraga­man sampai memunculkan tekad bersama Bhinneka Tunggal Ika. Nusantara dengan segala kemajemukan yang ada adalah tanah tempat benih Firman Tuhan dita­burkan, tempat Kitab Suci harus diwartakan, dan tem­pat setiap anak Tuhan harus memberi kesaksian iman.

Setelah pada tahun 2017 mengajak kita “Mewartakan Kabar Gembira dalam Gaya Hidup Modern”, kini LBI mengajak kita untuk melihat konteks kemajemukan sebagai lahan subur untuk pewartaan.  Kita diajak   membaca dan merenungkan Sabda Tuhan sehingga berani “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemu­kan” (2018).   Dalam empat kali pertemuan pendala­man BKSN, umat diajak membaca Kitab Suci dan mendalami Sabda Allah dalam bingkai tema-tema khusus yang menyangkut kemiskinan, budaya, agama lain dan Gereja lain. Tema dan pilihan Kitab Suci disusun demikian:

  1. MINGGU I: Dialog dengan Yang Miskin dan Tersingkir (Mat. 14: 13-21)
  2. MINGGU II: Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Kemajemukan Budaya (Mat. 1: 18-25)
  3. MINGGU III: Dialog dengan Agama Lain (Kis. 17: 16-34)
  4. MINGGU IV: Dialog dengan Gereja Lain (Yoh. 17: 20-26)

Bahan pertemuan BKSN 2018 ini disusun kita dapat menemukan kehendak Allah dalam situasi yang kita hadapi sekarang ini. Dengan cara demikian, kaum muda juga dapat memahami bagaimana harus mengambil bagi­an dalam tugas memberitakan kabar gembira kepada sesama.

PERTEMUAN I

Dialog Dengan Yang Miskin Dan Tersingkir

(Matius 14:13-21)

Lagu Pembuka: Lihatlah Rumah Allah

Lihatlah rumah Allah penuh kemuliaan
Dibangun dari batu, Allah perancangnya
Bagi-Mu Allah, kasih dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Megah di puncak Sion Kota-Mu yang kudus
Tersiar dari sana firman-Mu ya Allah
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Kau panggil umat-Mu menjadi saksi-Mu

 

Hanyalah atas Yesus, Gereja dibangun
Hanyalah dalam Dia damailah hatiku
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Bertumpu pada-Mu teguhlah hidupku

 

Lihatlah kemah Allah di bumi terbentang
Antara manusia tampaklah tanda-Nya
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Dampingi umat-Mu berjuang dan menang

 

Umat-Mu berziarah pimpinlah ya Tuhan
Topanglah sampai tiba di rumah surgawi
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Tanda Salib-Salam

P    Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U    Amin.

P    Semoga Tuhan beserta kita
U    Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Rekan-rekan muda yang terkasih, dalam Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, kita diajak untuk menjadi pewarta. Kaum muda itu bukan sekadar golongan yang hanya mau enak dan bersenang-senang. Dalam masa muda yang serba ceria, kita dipanggil untuk mewartakan Injil melalui hidup kita: lewat segala tingkah laku kita. Mewartakan Injil tak terbatas hanya melalui kotbah dan segala bentuk tata- peribadatan. Kehadiran kita di masyarakat juga hendaklah menjadi bentuk kesaksian nyata. Itulah artinya kalau kita mewartakan Injil.

Karena kita ini ada di Indonesia, pewartaan kita tak pernah lepas dari keadaan nyata di sekeliling. Pewartaan mesti memiliki aspek dialog. Dialog artinya ada relasi timbal-balik yang nyata. Untuk kita dalam konteks masyarakat Indonesia, ada empat pihak yang mesti menjadi rekan dialog: kemiskinan, aneka ragam budaya, perbedaan agama, dan kemajemukan Gereja-gereja Kristiani. Satu per satu kita akan membahas keempatnya selama BKSN kali ini.

Rekan-rekan muda sekalian, di banyak tempat kita temukan bentuk- bentuk kemiskinan yang mencolok. Tanpa harus menggunakan kriteria   dari   PBB   untuk   membuat klasifikasi   siapa yang bisa masuk dalam golo­ngan miskin, kita bisa melihat betapa persoalan kemiskinan ini ada di sekitar kita. Di kota-kota besar, kita temukan persoalan kemiskinan ini di antara gemerlap kehidupan urban: para gelandangan, para pengemis, mereka yang harus menyelinap di antara mobil-mobil yang sedang berhenti di lampu merah untuk sekadar mendapat uang recehan dan lain sebagainya. Di kota-kota kecil, persoalan kemiskinan hadir dalam persoalan perumahan tak layak huni, gizi buruk, pendidikan rendah, dan lain sebagainya.

Mari kita mulai renungan kita dengan doa pembuka.

Doa Pembuka

  1. Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati umat-Mu dan menyalakan di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu maka semuanya akan diciptakan kembali.
  2. Dan Engkau akan membaharui muka bumi.
  3. Marilah kita berdoa. Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat- Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus, Tuhan kami.

U    Amin.

Bacaan: Matius 14:13-21

(Salah satu peserta membacakan kutipan Kitab Suci)

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi, orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”  Tetapi, Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada- Ku.”  Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput.  Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya mem­beri­kannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpul­kan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Penjelasan

Pemimpin Ibadat membacakan sejumlah catatan untuk mem­bantu pemahaman atas bacaan yang baru saja dibacakan.

  1. Kisah mukjizat pergandaan roti adalah satu-satunya kisah mukjizat yang terdapat dalam keempat Injil (Mrk. 6:32-44; Luk. 9:10-17; Yoh. 6:1-15).
  2. Setelah ada dua ayat pendahuluan yang berkisah tentang penyembuhan, mulailah Yesus berdialog dengan para murid yang gelisah karena khawatir bahwa banyak orang itu akan kelaparan. Jawaban Yesus lugas dan tegas: “Kamu harus memberi mereka makan.”
  3. Sembari masih ragu, para murid mulai bertindak dengan memberikan apa yang senyatanya mereka punyai. Tindakan sederhana itu berbuah: mukjizat terjadi sedemikian sehingga “mereka semuanya makan sampai kenyang” dan “potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul.”
  4. Bunda Gereja yang kudus mengajarkan bahwa barang-barang lahiriah yang kita gunakan dan kita miliki itu memiliki dimensi sosial, yaitu untuk membantu mereka yang berkekurangan. Bahkan, dengan cara yang provokatif, disebutkan bahwa mereka yang menghadapi kebutuhan darurat berhak mengambil dari kekayaan orang-orang lain apa yang memang sungguh-sungguh mereka butuhkan untuk hidup (bdk. GS 69).
  5. Kita sebagai kaum muda diajak untuk terlibat pula dalam berbagai upaya untuk membantu mereka yang amat membutuhkan. Sebagai orang Katolik, kita semestinya siap mengulurkan tangan untuk mem­ban­tu mereka yang berkekurangan.

Sharing

  1. Bentuk-bentuk kemiskinan apa yang saat ini ada di sekitar saya?
  2. Apakah saya   pernah   membantu   mereka   yang   berkekurangan, terutama bila itu menyangkut hal-hal dasar yang diperlukan untuk hidup? Sekurang-kurangnya, pernahkah saya berdoa untuk mereka?
  3. Apa yang bisa saya buat di hari-hari mendatang untuk membantu mereka?

Kesimpulan

  1. Persoalan kemiskinan tak boleh membuat kita menyerah dan berpangku-tangan. Tindakan sekecil apa pun bisa berdampak luar biasa seperti halnya yang dilaku­kan oleh para murid Yesus.
  2. Bunda Gereja yang kudus melanjutkan karya Yesus dengan menyebutkan secara eksplisit kewajiban untuk membantu mereka yang berkekurangan.
  3. Mari kita   mulai   berbuat   sesuatu   tanpa   harus   menunggu   kita berkelimpahan.

Doa Penutup

Antifon:

Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Mazmur 90 (91)

(Bisa didoakan bergantian antara pemimpin dan umat, atau bisa juga umat diatur menjadi dua bagian dan mendaraskan bergantian.)

Hendaklah orang yang berlindung pada Allah yang mahatinggi,*
menikmati malam yang aman dalam naungan Tuhan.

Hendaklah ia berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah pelindung dan pengungsianku,*
ya Allah, padaMulah aku percaya”

Hanya Tuhanlah yang akan melepaskan dikau dari perangkap,*
melindungi engkau terhadap wabah yang berkecamuk

Ia akan menudungi engkau dengan kepak-Nya,+
dan di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,* lengan-Nya akan menjadi perisai dan jebang bagimu.

Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam,*
akan panah yang mengancam di waktu siang;

Akan wabah yang menular dalam kegelapan,*
akan bencana yang mengamuk di siang hari.

Walaupun seribu orang rebah di sebelah kirimu,+
dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,*
namun engkau takkan kejangkitan.

Engkau akan menyaksikan kehancuran musuh,*
dan pembalasan terhadap orang-orang jahat.

Jika engkau memilih Tuhan menjadi pelindungmu,*
dan Allah mahatinggi menjadi penopangmu;

Maka engkau takkan ditimpa malapetaka,*
dan kemahmu takkan diserang wabah;

Sebab Allah akan mengutus malaikat-Nya,*
untuk menjaga engkau ke mana pun engkau pergi.

Mereka akan menatang engkau dengan tangan mereka,*
jangan sampai kakimu tersandung pada batu.

Singa dan harimau akan kaulangkahi,*
ular dan naga akan kauinjak-injak.

Sebab Allah bersabda: “Mengingat bahwa ia berpaut padaKu,*
maka Aku akan menyelamatkannya;

Aku akan menjadi pelindungnya, jika ia mengakui Aku,*
jika ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawabnya.

Aku akan tetap besertanya dan membebaskan dia dari kesesakan,*
dan Aku akan memuliakannya.

Aku akan memuaskan dia dengan usia lanjut,*
dan memperkenankan dia menikmati keselamatanKu”.

Kemuliaan kepada Bapa*
dan Putra dan Roh Kudus,

Seperti pada permulaan, sekarang, selalu*
dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon:

Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Bapa  Kami

Berkat

Lagu  Penutup: Gereja Bagai Bahtera

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu, gelombang zaman menghempas dan sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih. Berapa lagi jauhnya labuhan abadi?

Ref : Tuhan tolonglah! Tuhan, tolonglah!

Tanpa Dikau semua binasa kelak, Ya, Tuhan tolonglah.

Gereja bagai bahtera diatur awaknya. setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.

Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harapan yang teguh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian, teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan. Bersama-sama majulah, bertahan berteguh, tujuan akhir Tuhanlah, labuhan yang teduh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah kau tak sendirian teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan Bersama-sama majulah bertahan berteguh tujuan akhir Tuhanlah, Labuhan yang teduh.

 

PERTEMUAN II

Dialog Dengan Budaya

(Matius 1:18-25)

 

Lagu Pembuka: Lihatlah Rumah Allah

Lihatlah rumah Allah penuh kemuliaan
Dibangun dari batu, Allah perancangnya
Bagi-Mu Allah, kasih dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Megah di puncak Sion Kota-Mu yang kudus
Tersiar dari sana firman-Mu ya Allah
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Kau panggil umat-Mu menjadi saksi-Mu

Hanyalah atas Yesus, Gereja dibangun
Hanyalah dalam Dia damailah hatiku
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Bertumpu pada-Mu teguhlah hidupku

Lihatlah kemah Allah di bumi terbentang
Antara manusia tampaklah tanda-Nya
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Dampingi umat-Mu berjuang dan menang

Umat-Mu berziarah pimpinlah ya Tuhan
Topanglah sampai tiba di rumah surgawi
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Tanda Salib-Salam

P    Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U    Amin.

P    Semoga Tuhan beserta kita
U    Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Rekan-rekan muda terkasih, pekan lalu kita telah me­renungkan bahwa berdialog dengan kemiskinan itu ar­tinya berani mengulurkan tangan untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dalam pertemuan pekan ini, kita hendak merenungkan budaya kita sendiri. Kita hendak menyadari secara lebih mendalam bahwa ada banyak titik temu antara iman Katolik dengan kebudayaan kita. Mari kita mulai renungan kita dengan doa pembuka.

Doa Pembuka

  1. Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati umat-Mu dan menyala- kan di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu maka semuanya akan dicipta kembali.
  2. Dan Engkau akan membaharui muka bumi.
  3. Marilah kita berdoa. Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus, Tuhan kami.

U    Amin.

Bacaan: Matius 1:18-25

(Salah satu peserta membacakan kutipan Kitab Suci.)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut:  Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam- diam.  Tetapi, ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.”(Yang berarti: Allah me­nyer­tai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengannya sampai Maria melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Penjelasan

  1. Teks yang termashyur ini dipilih untuk menggaris bawahi peristiwa inkarnasi, yaitu peristiwa di mana Allah menjadi daging: yang kekal dan tak berwaktu kini masuk dalam dunia yang dibatasi oleh waktu. Peristiwa iman nan mendalam ini menunjukkan kepada kita dengan gamblang bahwa Allah tak hendak bermonolog dan mendikte manusia. Ia mau masuk dalam dialog yang mendalam dengan berinkarnasi.
  2. Di satu pihak inkarnasi adalah sebuah pengosongan diri; Allah yang turun; tetapi di lain pihak, inkarnasi juga berarti sebuah pemuliaan; kodrat manusia diangkat. Inkarnasi menunjukkan bahwa Allah menilai tinggi budaya manusia. Gagasan ini menjadi penting bagi kita dalam merenungkan tempat budaya-budaya lokal di mana Gereja berada.
  3. Inkarnasi ini menjadi dasar bagi inkulturasi yang memainkan peranan penting dalam tugas evangelisasi Gereja kini dan di sini. Bukan kebetulan kalau almarhum Paus St. Yohanes Paulus II gemar dengan istilah inkulturasi, yang baru mulai populer sekitar tahun 70-an, justru karena mempunyai kemiripan dengan istilah inkarnasi, baik dari segi isi maupun istilah.
  4. Kekayaan budaya yang dikandung oleh tanah air kita, Indonesia ini sungguh luar biasa mengagum­kan. Di banyak tempat, sudah banyak dipikirkan bagaimana kekayaan budaya ini sungguh-sungguh bisa dimanfaatkan untuk penyebaran dan perkembangan iman umat. Dengan demikian, masalah inkulturasi sudah menjadi bahan pemikiran dan diskusi dengan melibatkan banyak pihak yang berkompeten. Tentu saja mesti diakui bahwa di masing-masing tempat, perkembangan soal inkulturasi ini juga melewati tahap-tahap yang berbeda.
  5. Di beberapa tempat, masalah inkulturasi ini berada pada ranah liturgi: bagaimana kekayaan budaya, seperti lagu-lagu, tata busana serta tarian yang merupakan ekspresi batin sebuah budaya tertentu, bisa menyum­bang bagi ibadat Gereja. Di tempat lain, mulai dicari dan dipikirkan juga titik temu antara gagasan dan pengharapan yang terungkap dalam aneka macam ungkapan dan simbol yang terdapat dalam budaya setempat dengan pengharapan yang ditawarkan oleh kekristenan.

Sharing

  1. Temukan nilai-nilai budaya dalam budaya setempat yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik!
  2. Sharingkan itu dengan rekan-rekan dalam perte­muan.
  3. Apakah selama ini, nilai-nilai itu sudah dikem­bang­kan sebagai bentuk pembinaan iman Katolik melalui apa yang sudah ada dalam budaya kita?

Kesimpulan

  1. Allah mengkomunikasikan Diri-Nya bukan melalui hal yang asing. Ia mau dikenal dengan “bahasa manusia”. Itulah sebabnya Ia menjadi manusia.
  2. Kebudayaan setempat tidak lah secara mutlak bertentangan dengan nilai-nilai Katolik.
  3. Iman kita haruslah dihidupi secara nyata sesuai dengan konteks di mana kita berada. Menjadi orang Katolik tidak sama dengan mengubah diri menjadi berkebudayaan barat!

Doa Penutup

Antifon:

Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Mazmur 90 (91)

(Bisa didoakan bergantian antara pemimpin dan umat, atau bisa juga umat diatur menjadi dua bagian dan mendaraskan bergantian.)

Hendaklah orang yang berlindung pada Allah yang mahatinggi,*
menikmati malam yang aman dalam naungan Tuhan.

Hendaklah ia berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah pelindung dan pengungsianku,*
ya Allah, padaMulah aku percaya”

Hanya Tuhanlah yang akan melepaskan dikau dari perangkap,*
melindungi engkau terhadap wabah yang berkecamuk

Ia akan menudungi engkau dengan kepak-Nya,+
dan di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,* lengan-Nya akan menjadi perisai dan jebang bagimu.

Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam,*
akan panah yang mengancam di waktu siang;

Akan wabah yang menular dalam kegelapan,*
akan bencana yang mengamuk di siang hari.

Walaupun seribu orang rebah di sebelah kirimu,+
dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,*
namun engkau takkan kejangkitan.

Engkau akan menyaksikan kehancuran musuh,*
dan pembalasan terhadap orang-orang jahat.

Jika engkau memilih Tuhan menjadi pelindungmu,*
dan Allah mahatinggi menjadi penopangmu;

Maka engkau takkan ditimpa malapetaka,*
dan kemahmu takkan diserang wabah;

Sebab Allah akan mengutus malaikat-Nya,*
untuk menjaga engkau ke mana pun engkau pergi.

Mereka akan menatang engkau dengan tangan mereka,*
jangan sampai kakimu tersandung pada batu.

Singa dan harimau akan kaulangkahi,*
ular dan naga akan kauinjak-injak.

Sebab Allah bersabda: “Mengingat bahwa ia berpaut padaKu,*
maka Aku akan menyelamatkannya;

Aku akan menjadi pelindungnya, jika ia mengakui Aku,*
jika ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawabnya.

Aku akan tetap besertanya dan membebaskan dia dari kesesakan,*
dan Aku akan memuliakannya.

Aku akan memuaskan dia dengan usia lanjut,*
dan memperkenankan dia menikmati keselamatanKu”.

Kemuliaan kepada Bapa*
dan Putra dan Roh Kudus,

Seperti pada permulaan, sekarang, selalu*
dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon:
Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Bapa  Kami

Berkat

  1. Tuhan beserta kita
  2. Sekarang dan selama-lamanya
  3. Semoga kita sekalian senantiasa dilindungi dan dina­ungi oleh berkat Allah Yang mahakuasa, dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
  4. Amin.

Lagu Penutup: Gereja Bagai Bahtera

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu, gelombang zaman menghempas dan sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih. Berapa lagi jauhnya labuhan abadi?

Ref :   Tuhan tolonglah! Tuhan, tolonglah!

Tanpa Dikau semua binasa kelak, Ya, Tuhan tolonglah.

Gereja bagai bahtera diatur awaknya. setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.

Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harapan yang teguh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian, teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan. Bersama-sama majulah, bertahan berteguh, tujuan akhir Tuhanlah, labuhan yang teduh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah kau tak sendirian teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan Bersama-sama majulah bertahan berteguh tujuan akhir Tuhanlah, Labuhan yang teduh

 

PERTEMUAN III

Dialog Dengan Agama Lain

 (Kisah 17:16-34)

 

Lagu Pembuka: Lihatlah Rumah Allah

Lihatlah rumah Allah penuh kemuliaan
Dibangun dari batu, Allah perancangnya
Bagi-Mu Allah, kasih dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu
Megah di puncak Sion Kota-Mu yang kudus
Tersiar dari sana firman-Mu ya Allah
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Kau panggil umat-Mu menjadi saksi-Mu
Hanyalah atas Yesus, Gereja dibangun
Hanyalah dalam Dia damailah hatiku
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Bertumpu pada-Mu teguhlah hidupku
Lihatlah kemah Allah di bumi terbentang
Antara manusia tampaklah tanda-Nya
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Dampingi umat-Mu berjuang dan menang
Umat-Mu berziarah pimpinlah ya Tuhan
Topanglah sampai tiba di rumah surgawi
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Tanda Salib-Salam
P    Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U    Amin.

P    Semoga Tuhan beserta kita.
U    Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Rekan-rekan muda yang terkasih dalam Kristus, setelah merenung- kan dialog dengan kemiskinan dan dengan kebudayaan setempat, kali ini kita hendak merenungkan dialog kita dengan agama lain. Bila kita tengok sekeliling, tampak jelas bahwa kita sebagai orang Katolik tinggal bersama dengan umat dari agama-agama yang lain. Dalam situasi seperti ini, kreativitas, integritas, dan kontribusi nyata kita di masyarakat adalah bentuk kesaksian iman akan Kristus. Kesaksian ini dapat membuat banyak orang mengalami kasih Allah dalam hidup. Mari kita mulai renungan kita dengan doa pembuka.

Doa Pembuka

  1. Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati umat-Mu dan menyala- kan di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu maka semuanya akan dicipta kembali.
  2. Dan Engkau akan membaharui muka bumi.
  3. Marilah kita berdoa. Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus, Tuhan kami.
  4. Amin.

Bacaan: Kisah 17:16-34

Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.

Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. Juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa berdebat dengan dia dan ada yang berkata, “Apa yang hendak dikatakan si pembual ini?” Tetapi, yang lain berkata, “Rupa-rupanya ia pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan kebangkitan-Nya.  Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan, “Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini? 20Sebab engkau memperdengarkan kepada kami hal-hal yang asing.  Karena itu kami ingin tahu apa artinya semua itu.” Adapun semua orang Atena dan orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru. Paulus berdiri di hadapan sidang Areopagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepadadewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari- cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing- masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu:  Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir bahwa keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan- Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.”  Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi, beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Penjelasan

  1. 17:16-34 yang diberi judul Paulus di Atena, kiranya menawarkan inspirasi segar mengenai bagaimana pewartaan kepada bangsa-bangsa   lain   bisa dilaksanakan.   Seperti   dikatakan   dalam   judul, perikop ini berkisah tentang Paulus yang mewartakan Kristus di Atena, yang merupakan pusat kebudayaan Yunani. Oleh karena itu, karya pewartaan Paulus di Atena sungguh merupakan sesuatu yang amat penting. Karya Paulus di Atena adalah puncak karya kerasulannya di dunia non-Yahudi. Saat dia berada di Areopagus, kita merasakan ketegangan bagaimana alam fikir Yunani bertemu dengan kebijaksanaan dari timur, dari Yerusalem, yaitu berita gembira tentang seorang bernama Yesus yang mati dan bangkit lagi.
  2. Di sini terbuktilah kelihaian Paulus dalam mewarta­kan Injil. Ia tak cepat-cepat mengutip teks-teks Kitab Suci tetapi memulai pewartaan dengan berangkat dari pemikiran filsafat dan tata religius di masyarakat Yunani.
  3. Paulus tak merasa pewartaannya sia-sia saat ada yang tak tertarik dengan pewartaan dia dan berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Ketabahan ini berbuah karena nyatanya ada beberapa orang yang tergerak dan menggabungkan diri dengan Paulus.
  4. Sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II, pada tahun 1984 Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-agama mengeluarkan sebuah dokumen tentang refleksi dan orientasi atas Dialogue and Mission. Dalam dokumen tersebut, disebutkan empat model dialog antar-agama:
    1. Dialog Kehidupan (Dialogue of Life). Dialog dipahami sebagai sebuah gaya hidup yang mencakup sikap perhatian, penghargaan, serta hospitalitas orang lain. Sikap seperti inilah yang mesti dibawa oleh setiap orang Katolik dalam hidup kesehariannya, entah sebagai minoritas atau mayoritas.
    2. Dialog Karya (Dialogue of Deeds). Dialog dalam bentuk kerjasama dengan pihak lain dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi yang terarah pada kemajuan dan pembebasan manusia.
    3. Dialog Para Spesialis (Dialogue of Specialists). Sesuai dengan namanya, dialog model ini melibatkan para ahli dalam bidang tertentu dari agama masing-masing. Mereka berusaha mendalami dan memperoleh penger­tian satu sama lain. Hal ini dilakukan supaya masing-masing saling memahami dan saling menghargai warisan rohani dan budaya dari masing-masing tradisi religius.
    4. Dialog Pengalaman Religius (Dialogue of Religious Experience).

Pada level ini masing-masing yang sudah terakar kuat pada tradisi religiusnya mampu membagikan pengalaman mereka dalam doa, iman, serta ungkapan iman mereka.

Dari empat model dialog di atas, dialog model kedua, yaitu dialog karya, yang rasanya mempunyai kesempa­tan cukup luas untuk dilaksanakan pada konteks zaman sekarang ini.

Sharing

  1. Apakah selama ini saya sadar bahwa berdialog dengan orang-orang beragama lain itu penting? Ataukah selama ini saya sering curiga dengan agama lain?
  2. Apa usaha-usaha yang selama ini sudah saya lakukan dalam rangka berdialog?
  3. Apakah yang masih perlu saya tingkatkan dalam berdialog dengan agama lain?

Kesimpulan

  1. Belakangan ini, para politikus yang tak berhati nurani menghembuskan kecurigaan antar agama sebagai tunggangan untuk kepentingan dan keuntungan sendiri. Kesadaran kita untuk berdialog persis kebalikannya: kita hendak membuka diri pada semua. Sesungguhnya isu primordial tentang agama bukanlah sesuatu yang memecah belah. Karena, setiap orang, apa pun agamanya, mempunyai banyak kesamaan, antara lain kesamaan sebagai manusia dan sebagai sesama orang yang tinggal di Indonesia.
  2. Dialog dengan agama lain perlu terus dibangun dan dikembangkan.
  3. Dialog karya adalah langkah strategis untuk memulainya.

Doa Penutup

Antifon:
Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Mazmur 90 (91)
Bisa didoakan bergantian antara pemimpin dan umat, atau bisa juga umat diatur menjadi dua bagian dan mendaraskan bergantian.

Hendaklah orang yang berlindung pada Allah yang mahatinggi,*
menikmati malam yang aman dalam naungan Tuhan.

Hendaklah ia berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah pelindung dan pengungsianku,*
ya Allah, padaMulah aku percaya”

Hanya Tuhanlah yang akan melepaskan dikau dari perangkap,*
melindungi engkau terhadap wabah yang berkecamuk

Ia akan menudungi engkau dengan kepak-Nya,+
dan di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,*
lengan-Nya akan menjadi perisai dan jebang bagimu.

Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam,*
akan panah yang mengancam di waktu siang;

Akan wabah yang menular dalam kegelapan,*
akan bencana yang mengamuk di siang hari.

Walaupun seribu orang rebah di sebelah kirimu,+
dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,*
namun engkau takkan kejangkitan.

Engkau akan menyaksikan kehancuran musuh,*
dan pembalasan terhadap orang-orang jahat.

Jika engkau memilih Tuhan menjadi pelindungmu,*
dan Allah mahatinggi menjadi penopangmu;

Maka engkau takkan ditimpa malapetaka,*
dan kemahmu takkan diserang wabah;

Sebab Allah akan mengutus malaikat-Nya,*
untuk menjaga engkau ke manapun engkau pergi.

Mereka akan menatang engkau dengan tangan mereka,*
jangan sampai kakimu tersandung pada batu.

Singa dan harimau akan kaulangkahi,*
ular dan naga akan kauinjak-injak.

Sebab Allah bersabda: “Mengingat bahwa ia berpaut padaKu,*
maka Aku akan menyelamatkannya;

Aku akan menjadi pelindungnya, jika ia mengakui Aku,*
jika ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawabnya.

Aku akan tetap besertanya dan membebaskan dia dari kesesakan,*
dan Aku akan memuliakannya.

Aku akan memuaskan dia dengan usia lanjut,*
dan memperkenankan dia menikmati keselamatanKu”.

Kemuliaan kepada Bapa*
dan Putra dan Roh Kudus,

Seperti pada permulaan, sekarang, selalu*
dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon
Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Bapa  Kami

Berkat

  1. Tuhan beserta kita
  2. Sekarang dan selama-lamanya
  3. Semoga saudara sekalian senantiasa dilindungi dan dinaungi oleh berkat Allah yang mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
  4. Amin.

Lagu  Penutup: Gereja Bagai Bahtera

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu, gelombang zaman menghempas dan sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih. Berapa lagi jauhnya labuhan abadi?

Ref : Tuhan tolonglah! Tuhan, tolonglah!

Tanpa Dikau semua binasa kelak, Ya, Tuhan tolonglah.

Gereja bagai bahtera diatur awaknya. setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh. Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harapan yang teguh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian, teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan. Bersama-sama majulah, bertahan berteguh, tujuan akhir Tuhanlah, labuhan yang teduh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah kau tak sendirian teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan Bersama-sama majulah bertahan berteguh tujuan akhir Tuhanlah, Labuhan yang teduh

 

PERTEMUAN IV

Dialog Dengan Gereja Lain

 (Yohanes 17:20-26)

Lagu Pembuka: Lihatlah Rumah Allah

Lihatlah rumah Allah penuh kemuliaan
Dibangun dari batu, Allah perancangnya
Bagi-Mu Allah, kasih dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Megah di puncak Sion Kota-Mu yang kudus
Tersiar dari sana firman-Mu ya Allah
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Kau panggil umat-Mu menjadi saksi-Mu

Hanyalah atas Yesus, Gereja dibangun
Hanyalah dalam Dia damailah hatiku
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Bertumpu pada-Mu teguhlah hidupku

Lihatlah kemah Allah di bumi terbentang
Antara manusia tampaklah tanda-Nya
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Dampingi umat-Mu berjuang dan menang

Umat-Mu berziarah pimpinlah ya Tuhan
Topanglah sampai tiba di rumah surgawi
Bagi-Mu Allah puji dan sembah
Izinkan putra-Mu tenang di rumah-Mu

Tanda Salib -Salam

  1. Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
  2. Amin.
  3. Semoga Tuhan beserta kita
  4. Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Rekan-rekan muda terkasih dalam Kristus, setelah merenungkan tentang dialog dengan kemiskinan, dengan budaya kita sendiri, dan dengan kemajemukan agama yang ada di sekeliling, kini kita hendak melihat dialog dengan saudara-saudari dari Gereja non-Katolik. Mengapa ini penting?  Dalam konteks dialog antar agama, semua Gereja Kristiani seringkali disamaratakan sedangkan senyatanya ada sejumlah perbedaan yang bahkan mendasar. Mengingat bahwa perbedaan itu senyatanya ada, kini kita luangkan waktu untuk secara khusus merenungkan dialog dengan mereka. Mari kita mulai renungan kita dengan doa pembuka.

Doa Pembuka

  1. Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati umat-Mu dan menyala- kan di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu maka semuanya akan dicipta kembali.
  2. Dan Engkau akan membaharui muka bumi.
  3. Marilah kita berdoa
  4. Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus, Tuhan kami.
  5. Amin.

Bacaan: Yohanes 17:20-23

Salah satu peserta membacakan kutipan Kitab Suci.

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang- orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.  Bapa, Aku ingin supaya mereka, yang Bapa berikan kepada-Ku, ada bersama-Ku di tempat Aku berada, supaya mereka melihat keagungan-Ku; yaitu keagungan yang Bapa berikan kepada-Ku, karena Bapa mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Bapa yang adil! Dunia tidak mengenal Bapa, tetapi Aku mengenal Bapa; dan orang-orang ini tahu bahwa Bapa mengutus Aku. Aku sudah menyatakan nama Bapa kepada mereka; dan Aku akan terus berbuat begitu, supaya kasih Bapa kepada-Ku tetap di dalam hati mereka dan Aku bersatu dengan mereka.”

Penjelasan

  1. Teks yang baru saja kita dengarkan berisi permohonan Yesus akan kesatuan para murid-Nya. Yesus menghendaki kesatuan di antara semua saja yang percaya pada-Nya. Dalam perjalanan sejarah, kesatuan itu telah tercabik-cabik oleh berbagai perbedaan. Gereja- gereja terpisah satu sama lain atas dasar berbagai alasan. Perpecahan bahkan terus terjadi hingga saat ini.
  2. Menjadi jelas bahwa dalam konteks Gereja Indonesia, Kabar Sukacita mesti diwartakan dalam pluralitas Gereja-gereja. Seperti sudah disinggung pada awal, kalau orang sempat mengunjungi Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulcher) di Yerusalem akan terasakan sesuatu yang amat ironis. Di tempat di mana Sang Penebus menjalankan karya penyelamatan Allah dengan menyerahkan diri-Nya di kayu salib, di tempat itulah perpecahan umat kristiani amat kentara. Sejak tahun 1862, pemeliharaan Gereja Makam Suci ini menjadi tanggungjawab tidak kurang dari enam denominasi Kristen, yaitu Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Armenia, Gereja Katolik Roma, Gereja Koptik, Gereja Etiopia, dan Gereja Ortodoks Siria. Gereja yang luar biasa ini dibagi sangat ketat menjadi enam area. Pelanggaran batas ini bisa menimbulkan konflik berdarah di antara orang Kristiani sendiri. Begitu gentingnya suasana sampai-sampai kunci pintu Gereja Makam Suci ini sejak berabad-abad justru dipercayakan kepada dua keluarga Muslim untuk menjaga kenetralannya.
  3. Konsili Vatikan II dengan tegas menggambarkan situasi ini sebagai perpecahan yang “terang-terangan berlawanan dengan kehendak Kristus, dan menjadi batu sandungan bagi dunia, serta merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk” (UR 1).
  4. Tidak mengherankan dan memang tidak bisa terhindarkan bahwa pewartaan tentang Yesus Kristus ini seringkali akhirnya juga disampaikan kepada mereka yang sudah beriman kepada Yesus Kristus. Istilah   yang   seringkali muncul adalah “me­man­cing di kolam orang”.  Dalam situasi demi­kian, tidak jarang perbedaan, yang seringkali diar­tikan sebagai kelebihan yang satu dibandingkan dengan denominasi yang lain, semakin ditonjolkan dan ditampakkan, bahkan kadang-kadang diman­faat­kan sebagai sarana persuasif dan provokatif.
  5. Untuk mendukung dialog, pada level yang tidak banyak berurusan dengan hal-hal yang berbau teologis-dogmatis, mungkin pembicaraan akan lebih efektif jika diarahkan pada hal-hal konkret yang bisa dikerjakan bersama dengan saudara-saudara dari Gereja lain supaya bisa terbangun bonum commune atau kebaikan bersama. Perbedaan-perbedaan yang ada baiklah dikesampingkan terlebih dulu untuk mem­beri tempat pada persamaan yang menghasilkan buah untuk melindungi kepentingan bersama.

Sharing

  1. Apakah selama ini saya sadar bahwa senyatanya ada perbedaan di antara Gereja-gereja?
  2. Adakah saya sudah mengupayakan untuk menjadi terbuka dan bekerjasama dengan Gereja-gereja di sekitar saya?
  3. Apa yang bisa diupayakan di masa mendatang ter­kait dengan hubungan dengan Gereja-gereja lain?

Kesimpulan

  1. Kesatuan sebagai sesama pengikut Kristus hendaknya kita sadari sebagai bukti nyata iman kita.
  2. Berbagai kesulitan yang ada karena ketertutupan pihak-pihak tertentu atau mungkin ketertutupan hati kita karena merasa diri paling benar pelan-pelan harus dikikis.
  3. Perbedaan ajaran yang ada tak mesti ditonjol-tonjolkan. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama lepas dari perbedaan ajaran.

Doa Penutup

Antifon:
Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Mazmur 90 (91)
Bisa didoakan bergantian antara pemimpin dan umat, atau bisa juga umat diatur menjadi dua bagian dan mendaraskan bergantian.

Hendaklah orang yang berlindung pada Allah yang mahatinggi,*
menikmati malam yang aman dalam naungan Tuhan.

Hendaklah ia berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah pelindung dan pengungsianku,*
ya Allah, pada-Mulah aku percaya”

Hanya Tuhanlah yang akan melepaskan dikau dari perangkap,*
melindungi engkau terhadap wabah yang berkecamuk

Ia akan menudungi engkau dengan kepak-Nya,+
dan di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,*
lengan-Nya akan menjadi perisai dan jebang bagimu.

Engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam,*
akan panah yang mengancam di waktu siang;

Akan wabah yang menular dalam kegelapan,*
akan bencana yang mengamuk di siang hari.

Walaupun seribu orang rebah di sebelah kirimu,+
dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,*
namun engkau takkan kejangkitan.

Engkau akan menyaksikan kehancuran musuh,*
dan pembalasan terhadap orang-orang jahat.

Jika engkau memilih Tuhan menjadi pelindungmu,*
dan Allah mahatinggi menjadi penopangmu;

Maka engkau takkan ditimpa malapetaka,*
dan kemahmu takkan diserang wabah;

Sebab Allah akan mengutus malaikat-Nya,*
untuk menjaga engkau ke mana pun engkau pergi.

Mereka akan menatang engkau dengan tangan mereka,*
jangan sampai kakimu tersandung pada batu.

Singa dan harimau akan kaulangkahi,*
ular dan naga akan kauinjak-injak.

Sebab Allah bersabda: “Mengingat bahwa ia berpaut pada-Ku,*
maka Aku akan menyelamatkannya;

Aku akan menjadi pelindungnya, jika ia mengakui Aku,*
jika ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawabnya.

Aku akan tetap besertanya dan membebaskan dia dari kesesakan,*
dan Aku akan memuliakannya.

Aku akan memuaskan dia dengan usia lanjut,*
dan memperkenankan dia menikmati keselamatan-Ku”.

Kemuliaan kepada Bapa*
dan Putra dan Roh Kudus,

Seperti pada permulaan, sekarang, selalu*
dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon:
Tuhan akan menudungi engkau dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.

Bapa Kami

Berkat

  1. Tuhan beserta kita
  2. Sekarang dan selama-lamanya
  3. Semoga saudara sekalian senantiasa dilindungi dan dinaungi oleh berkat Allah yang mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
  4. Amin.

Lagu Penutup: Gereja Bagai Bahtera

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu, gelombang zaman menghempas dan sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih. Berapa lagi jauhnya labuhan abadi?

 

Ref : Tuhan tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak, Ya, Tuhan tolonglah.

Gereja bagai bahtera diatur awaknya. setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.

Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harapan yang teguh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian, teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan. Bersama-sama majulah, bertahan berteguh, tujuan akhir Tuhanlah, labuhan yang teduh.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Hai kau yang takut dan resah kau tak sendirian teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan Bersama-sama majulah bertahan berteguh tujuan akhir Tuhanlah, Labuhan yang teduh

Bulan Kitab Suci Nasional

Konsili Vatikan II menyerukan agar jalan menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (Dei Verbum 22). Pembukaan jalan menuju Kitab Suci ini dilakukan dengan menerjemahkan Kitab Suci ke dalam banyak bahasa lokal. Konsili juga menganjurkan agar terjema­han ini diselenggarakan bersama para saudara terpisah (Gereja- gereja Protestan). Penerjemahan ini membuka jalan masuk ke dalam Kitab Suci, memungkinkan setiap orang membaca Sabda Allah dalam bahasa masing-masing, bahasa yang dipahaminya. Memang dalam Dei Verbum 25 ”Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh pengertian yang mulia akan Yesus Kristus (Flp. 3:8).” Bagi para anggota Gereja Sabda Allah menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, dan sumber hidup rohani.  Karena, dalam Kitab Suci Bapa yang ada di surga dengan penuh cinta kasih menjumpai para putra-Nya dan berwawancara dengan mereka.

Mengingat hal itu, Lembaga Biblika Indonesia, yang merupakan Lembaga dari KWI untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memper­ke­nal­kan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca Kitab Suci. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara nasionaL sejak tahun 1975. LBI mengusulkan dan mendorong agar keuskupan- keuskupan dan paroki-paroki seluruh Indonesia meng­ada­kan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar Kitab SucI. Gerakan itu sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional yang dilaksanakan dengan tujuan:

  1. Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci juga diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilahkan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sebagai sumber dari kehidupan iman mereka.
  2. Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya.

Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab suci di rumahnya.  Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman akan Kristus.

About gema

Check Also

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-53 (2 Juni 2019)

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-53 (2 Juni 2019) “Kita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *