Home / Berita / Peranan Koor dalam Liturgi (Gema November 2015)

Peranan Koor dalam Liturgi (Gema November 2015)

Cover November 2015Ketika di paroki-paroki telah menguat kesadaran tentang perlunya partisipasi aktif umat dalam berliturgi, koor atau kerap juga disebut paduan suara gerejani tidak akan pernah menghilang bahkan akan muncul lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh umat  -anak-anak, omk, dan dewasa-  akan berusaha untuk menunjukkan partisipasi aktifnya yang menjadikan liturgi semakin indah dan agung sebagai karya Allah dan karya manusia. Sampai saat ini, masih diyakini bahwa koor yang baik selalu memperindah liturgi dan menghantar umat untuk masuk ke dalam penghayatan yang benar serta menopang dan mengembangkan partisipasi aktif umat beriman dalam menyanyi.

Memang selama ini menyuara beberapa catatan perbaikan untuk kelompok koor yang ada. Dalam beberapa kasus dan tempat, penghayatan liturgi peserta koor yang kurang, bisa tampak dalam pemilihan lagu yang tidak tepat, cara membawakan diri yang kurang pas, yang dapat menimbulkan kesan tertentu bagi umat. Kebanggaan dapat tampil dalam liturgi apalagi dengan barangkali mengenakan seragam yang berbeda dengan umat dapat memberikan kesan sedang show, menganggap diri berbeda dengan umat yang lain, mengaburkan hakekat anggota koor yang merupakan bagian utuh dari umat yang berhimpun dan berpartisipasi secara sakramental. Kelompok koor adalah pelayan liturgis yang didasari hendaknya bukan terbentuk karena hobbi semata melainkan semangat persembahan diri sebagaimana Kristus telah mempersembakan Diri-Nya untuk kita.

Bagaimanakan pendampingan terhadap kelompok koor yang ada di paroki-paroki? Para Bapa Konsili Vatikan II menghimbau agar “paduan suara hendaknya dibina dengan sungguh-sungguh” (SC 114). Pembinaan yang dimaksud di sini bukan hanya sebatas pengolahan vokal dan keindahan lagu yang barangkali tidak semua pastor atau yang lainnya dapat melaksanakannya, tetapi yang tidak kalah penting adalah pembinaan liturgi sehingga mereka dapat benar-benar menjalankan pelayanan liturgis. Tugas ini terletak pertama-tama di tangan para gembala umat.

Gema edisi kali ini, mencoba melihat dan memaparkan situasi-situasi koor di keuskupan kita, demi memperindah liturgi sebagai doa yang tidak tergantikan oleh doa-doa apapun di dunia.

Peran Penting Koor Gereja

DSC_3555_1280x851Pada setiap momen perayaan Gereja, kerap tampil kelompok paduan suara (koor). Suasana Perayaan Ekaristi menjadi lebih semarak dengan kehadiran kelompok ini. Saat pemberkatan gereja Santo Paulus, Pekanbaru, 23 Agustus 2015, kehadiran paduan suara gabungan (seluruh paroki) memberi warna tersendiri.

Bila ada umat yang ‘terpesona’ dengan penampilan kelompok  koor saat Perayaan Ekaristi adalah ‘buah’ dari latihan-latihan yang diadakan.  Anggota Seksi Liturgi Dewan Pastoral Paroki (DPP) Katedral, St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Padang, Silviani Tanoto mengatakan, “Pelayanan atau tepatnya pengurbanan anggota koor yang sesungguhnya justru saat menjalani latihan-latihan rutin. Itulah kerja keras dari anggota  koor. Waktu berlatih adalah saat terberat. Saat tampil, dalam Perayaan Ekaristi merupakan muara dari olah latihan itu. Untuk  perayaan Kristus Raja, Natal, Paskah, dan sebagainya, pada awal latihan, belum banyak anggota datang.  Setelah menjelang hari H, semakin banyak anggota datang. Pada hal, sedari awal selalu diinformasikan baik langsung atau pesan singkat (SMS) selalu saja begitu”.

Di paroki Katedral Padang lanjut Silviani, ada beberapa kelompok koor, yaitu: Paduan Suara (PS) Teresia berlatih Senin dan Rabu. PS Magnificat setiap Minggu siang dan Selasa. Sebelum gempa bumi 30 September 2009, di parokinya terdapat sejumlah kelompok paduan suara (PS Caecilia, PS Sion, PS Stella Maris, PS Magnificat). Pasca gempa, banyak PS yang off.  Ia merasa ‘aneh’ bila di Paroki Katedral tidak memiliki PS. Hal itulah yang mendorongnya untuk membentuk PS baru, PS Theresia. Selain itu, lanjutnya, bila ada momen tertentu yang membutuhkan banyak PS, Seksi Liturgi menggerakkan PS Ecclesia, terdiri dari para penghuni Panti Asuhan St. Leo. Namun sayang di paroki ini ada PS yang hanya muncul dan aktif sesaat ketika seorang frater menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Katedral. “Keberadaan kelompok koor itu memberi warna dalam Perayaan Ekaristi”, tegasnya

Menjadi  ‘Motor’  Umat

Menurut Silviani keberadaan koor adalah motivator, penunjuk bernyanyi yang benar dan tepat bagi umat. Maka tidak tepat bila koor ‘menguasai’ semua lagu,  sementara umat menonton saja.  Di Katedral, ada PS untuk pemberkatan pernikahan di luar hari Minggu, koor yang dominan bernyanyi.  Namun, dalam Misa Kudus yang biasa, koor tetap menjadi ‘motor’ bagi umat.

Silviani mengingatkan anggota koor Gereja agar tidak memonopoli lagu saat Perayaan Ekaristi.  Kalau ada lagu baru, lebih baik dirigen melatih umat sebelum Perayaan Ekaristi. Hal ini dapat mendorong keterlibatan umat bernyanyi dan mengenal lagu baru. Seksi Liturgi pernah memikirkan kemungkinan mendatangkan nara­sumber ahli untuk memberikan masukan kepada koor. Kami menginginkan dapat berliturgi dengan anggun dan khidmat,” tandasnya.

Berbeda dengan pengalaman guru SMP Bintang Laut Bagansiapiapi yang pernah bertugas di SD Yos Sudarso, Selat Panjang, Riau, Harry Utomo (49). “Di Selat Panjang tidak ada koor yang permanen. Setiap ada event  Gereja,  dibuat  koor gabungan beranggotakan 30 orang kaum ibu dan bapak. Mereka lebih bersedia meluangkan waktu berlatih untuk beberapa saat jelang event khusus, ketimbang latihan rutin. Kaum muda sangat terbatas, karena banyak ke luar daerah untuk studi. Sangat terasa perbedaan suasana liturgi antara ada dan tidak ada koor.” katanya.  

Saat pindah di Bagansiapiapi, Harry menemukan kondisi lain. Ia mendapat ‘kisah’ Koor OMK Bagansiapiapi yang kini vakum. Saya mengangankan, ada dan tiada pastor dalam ibadat, selalu ada koor. Sebagai langkah awal menghidupkan koor di Bagansiapiapi, Harry memulai dengan menggerakkan para pelajar SMP Bintang Laut. “Ternyata mendapat dukungan orang­tua untuk berlatih pada Rabu, Jumat, Sabtu malam. Akhir-akhir ini, beberapa OMK turut bergabung”, katanya. Melalui kelompok koor mereka tidak hanya belajar menyanyi, tetapi belajar mencintai Gereja. Saya bekerjasama dengan Seksi Kepemudaan untuk menggerakkan orang muda. Hal ini saya sampaikan kepada pengurus DPP, agar di Bagansiapiapi ada koor permanen. Karena kalau rutin berlatih hasilnya lebih bagus ketimbang yang spontanitas ,” tuturnya.

Harry berpendapat, idealnya koor Gereja itu tidak hanya ada di tingkat paroki, tetapi juga di tingkat stasi/wilayah, kring/lingkungan. “Dengan bernyanyi akan menambah semangat, situasi Perayaan Ekaristi pun semakin semarak, doa menjadi lebih bagus. Saya inginkan pembinaan dari bawah, stasi/wilayah. Bila di tingkat stasi/wilayah ada PS, tentu dapat menjadi pemicu dan pemacu kehadiran PS di tingkat paroki,” ujarnya.

fokus,patricia Imelda Salamanang,2Hal senada disampaikan anggota koor yang juga aktivis OMK Paroki St. Maria Auxilium Christianorum, Sikabaluan, Mentawai, Patricia Imelda Salamanang (25). “Saya senang terlibat dalam kelompok koor karena membantu umat menyanyikan lagu-lagu Gereja. Ada kebanggaan saya sebagai dirigen, meskipun di balik itu khawatir saat bertugas ada kekurangannya. Selama ini, paduan suara OMK melaksanakan tugas dengan baik. Keberadaan paduan suara OMK ini juga bergema hingga ke stasi-stasi. Paduan suara ini ‘turun’ ke stasi-stasi untuk mendorong pembentukan paduan suara di stasi, misalnya di Bojakan, Malancan yang disokong para ibu Wanita Katolik (WK) stasi. Juga ada kelompok vokal dari Bina Iman Anak (BIA) setempat,” ucap Imel, panggilannya.

Imel merasakan banyak manfaat bergabung dalam kelompok koor. Dirinya semakin tahu dan menguasai teknik bernyanyi,  membaca notasi lagu, mengetahui lagu-lagu baru, dan berani tampil dalam perlombaan paduan suara. Ia merasa suara yang dimilikinya hadiah yang diberikan Tuhan, maka ia ingin membalasnya lewat paduan suara. Dengan bernyanyi baik, ia merasa telah memberikan persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Namun, diakuinya juga, sebagai anggota koor dan pelatih terkadang mendapati kenyataan anggota paduan suara yang ngaret waktu latihan atau anggota sibuk sendiri kurang memerhatikan arahan atau petunjuk saat berlatih.

Sementara itu, Anggota Sub Seksi Paduan Suara dan Organis Seksi Liturgi DPP St. Yosef, Duri, Riau, Laurentius Sarjiana (55) mengungkap perbedaan semaraknya perayaan liturgi dengan ada dan tiada koor. Di parokinya, kini ada empat kelompok koor. Ada empat wilayah yang bergiliran bertugas di gereja paroki. Koor bertugas pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, misa Sabtu sore tidak ada koor khusus. “Bila tanpa koor, semua lagu dinyanyikan umat dari awal hingga akhir. Tentu lebih meriah dan semarak, ketika ada koor. Saat kunjungan Uskup, disampaikan agar ada lagu komuni yang dinyanyikan PS bersama umat. Atas masukan tersebut, Seksi Liturgi memutuskan ada dua lagu komuni, dengan melihat ‘antrian’ umat menerima Komuni. Ada yang dinyanyikan koor  dan ada lagu bersama umat, cukup satu suara saja,” ucapnya.

Mengajak  Umat  Bernyanyi

Laurentius sepakat, anggota  harus ‘benar’ terlebih dulu dalam bernyanyi. Koor tidak harus empat suara! Dari namanya saja adalah beberapa suara yang dipadu. “Selanjutnya, kalau memungkinkan, barulah dua, tiga, empat suara dan seterusnya. Koor menjadi motornya umat bernyanyi, terutama bagian tempo atau ketukan lagu; maka aneh bila bersama umat, PS malah tidak bernyanyi walau satu suara. Kerap terjadi, nadanya ditarik-tarik, melambat, dan seterusnya. Kami mempunyai program, yakni mengajari umat menjawab lagu aklamasi, karena selama ini banyak yang keliru. Banyak versinya, lain ketukannya, termasuk prefasi sebelum konsekrasi. Di sinilah peran dirigen PS. Dirigen harus tahu lagu yang akan dinyanyikan! Perlu persiapan bernyanyi, tidak bisa instan!” tukasnya lagi.


Ada usulan anggota koor agar menggunakan lagu baru, sehingga  tidak membosankan. Tentu ini, menjadi ‘tantangan’ bagi Seksi Liturgi, termasuk mengikuti kemauan memasukkan pilihan lagu pop dalam lagu PS di Gereja. Sebenarnya, sangat banyak lagu yang dapat digunakan koor, terutama dari buku lagu yang telah “berimprimatur”. Maka, ada waktunya, pihaknya mengakomodasi kemauan anggota PS, terutama waktu-waktu tertentu dan lingkup terbatas; misalnya momen pemberkatan rumah – tidak mengambil lagu dari Madah Bakti maupun Puji Syukur, tetapi dari banyak sumber luar. Dalam kapasitas di DPP, pihaknya berupaya mendorong terbentuk koor di tingkat wilayah/stasi maupun kelompok kategorial. Untuk merangsang paian gultomdinamika koor, pihaknya mengadakan lomba. “Walau tidak rutin, kami mengadakan penataran internal, misalnya teori vokal. Hanya saja, kerap, pesertanya orang yang itu-itu saja. Tahun mendatang, 2016, kami menyelenggarakan pembekalan dengan mendatangkan narasumber dari Komisi Liturgi Keuskupan Padang,” ujarnya.


Sementara itu, di Paroki St. Paulus, Labuhbaru, Pekanbaru, Seksi Liturgi DPP bergerak cepat setelah pemberkatan dan peresmian pengurus baru. Ketua Seksi Liturgi DPP, Paian Gultom mengungkapkan kurang maksimalnya pengetahuan dan pemahaman terhadap tugas liturgi. Perlu penyeragaman atas pelaksanaan tugas liturgi, dan upaya penambahan keterampilan seluruh petugas liturgi di seluruh kring dan stasi/wilayah. Seksi Liturgi beserta tim paroki menyelenggarakan beberapa program pelatihan untuk dirigen, pemazmur, lektor, misdinar, kolektan dan ketertiban, serta petugas dekorasi altar/gereja. Pelatihan berlangsung di Wilayah Pusat, Wilayah I-IV sejak awal Oktober hingga awal November 2015. “Saya minta setiap kring dan stasi mengutus peserta yang sesuai dengan jenis pelatihan yang diikuti. Setiap peserta tidak mengikuti pelatihan lebih dari satu jenis agar lebih fokus dan juga penjaringan kader-kader yang baru. Prinsipnya, semakin banyak yang terlibat, semakin baiklah kemajuan liturgi kita,” ungkap Gultom.

Koor Itu Promotor Umat

[blockquote style=”1″]“Fungsi koor itu untuk memperlancar liturgi dan menolong umat saat bernyanyi. Koor adalah promotor-penggerak umat dalam bernyanyi.  Prinsipnya  koor tidak boleh dominan,  apalagi kalau menyanyikan lagu-lagu baru  yang belum  diketahui umat”[/blockquote] kata pastor rekan Paroki Santo Yosef Sipora, Mentawai,  P. Bernard Lie, Pr. yang antusias menggerakkan lokakarya  musik liturgi Mentawai dan peduli dengan kelompok koor Gereja.

Fokus Pastor Bernard LieBagaimana sebaiknya kelompok koor bernyanyi saat perayaan liturgi?

Karena kelompok koor berfungsi turut memperlancar lagu-lagu, maka dalam bernyanyi juga bersama umat. Saya senang melihat umat bersemangat menyanyi saat ibadah. Kalau ada yang bisa bernyanyi dalam empat suara, sungguh membanggakan. Tetapi kalau koor bisa bernyanyi dengan empat suara, itu hal biasa saja. Tetapi, sungguh hal yang luar biasa bila  koor bisa bernyanyi bersama umat dengan formasi empat suara. Koor menjadi promotor. 

Pengalaman saya mendampingi dan melatih anggota koor di beberapa paroki yang pernah saya layani, sebenarnya terlihat antusiasme umat terhadap kelompok koor. Saya melihat umat senang, terbantu sejauh koor menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal. Sebaliknya, kalau ada lagu yang sama sekali baru, tidak diketahui sama sekali, asing, bahkan tidak dilatih sebelumnya, biasanya umat lebih bersikap tidak mau peduli, cuek. Umat beranggapan “kan sudah ada koor yang bisa bernyanyi bagus dengan empat suara!” Maka, baik juga kalau umat sering dilatih, terutama untuk lagu-lagu baru, agar umat terbiasa dengan lagu baru tersebut. Di Mentawai, umat bisa dilatih dalam empat suara. Umat pun aktif bernyanyi, sehingga menjadi koor massal. Beda dengan ‘mobilisasi’ umat di paroki perkotaan. Saya pernah usahakan, upayakan di Paroki Bagansiapiapi dan Paroki Dumai dengan jadwal misa kudus sekali-dua kali. Di Paroki Katedral Padang lebih banyak jadwal misa kudus dan umatnya bergantian sehingga sulit menjadi koor massal bersama umat. Saya berkesimpulan, kita mesti mengenal situasi setempat dan kondisinya. Di Mentawai memungkinkan, lebih gampang; termasuk lagu-lagu inkulturasi dalam beberapa suara yang dapat dinyanyikan bersama umat.

Bagaimana Pastor melihat kesulitan  umat untuk bergabung ke dalam kelompok koor Gereja?

Memang terpulang pada minat dan bakat umat. Ada suatu kondisi orang tidak suka bernyanyi, saya temukan di salah satu paroki di Padang, tentu keadaan ini menjadi sulit. Beda di Mentawai, lebih gampang. Kalau orang antusias, mereka/umat lebih mudah digerakkan! Di Mentawai, tak ada koor khusus. Sementara di paroki lain, ada kelompok yang berlatih dengan jadwal tertentu.

Tentang lagu-lagu yang digunakan, ada pastor yang ‘ikut saja’ dengan kemauan koor. Bagaimana komentar Pastor?

Mungkin, ada pastor yang ‘ikut saja’ karena dirasa lebih meriah, semangat, dinamis. Tentu, hal ini terpulang pada pemahaman pastor bersangkutan tentang fungsi musik liturgi. Kalau untuk momen Sakramen Perkawinan misalnya, belum ada lagu-lagu di buku pegangan, yang khusus tentu boleh-boleh saja. Menggunakan lagu di luar lagu yang ada di Madah Bakti atau Puji Syukur pada momen tersebut, juga tak masalah; bahkan menggunakan lagu yang ditulis pastor. Menurut saya, sebaiknya ada seleksi. Sebelum dinyanyikan, ada diskusi dengan pastor untuk melihat lirik, syairnya. Sungguh baik bila ada komunikasi dan konsultasi sebelumnya, agar tidak terjadi, saat asyik bernyanyi pastornya terheran-heran dan bahkan menghentikan lagu paduan suara tersebut. Saya melihat pastor yang mempunyai bakat-minat dan tahu menyanyi kadang ada masalah dengan kelompok koor. Kalau tidak tahu, pastor bersangkutan umumnya menerima saja. Kalau lagu yang mau dibawakan koor sungguh baru, sebaiknya didiskusikan terlebih dulu.

Bagaimana dengan kelompok  koor di Kuasi Paroki St. Petrus, Tuapeijat, Mentawai?

Koor yang ada bersifat musiman. Saya merasakan umat setempat luar biasa. Umat dominan pegawai negeri sipil (PNS), tidak menetap di tempat sehingga tidak bisa latihan rutin. Dalam situasi tersebut, kita jalani saja. Kalau ada momen tertentu, kami membentuk koor.  Selesai kegiatan bubar. Saya juga mengupayakan melatih lagu sebelum Perayaan Ekaristi. Saya tidak ingin lagu-lagu yang dinyanyikan itu-itu saja. Dalam Rapat Wilayah (Rawil) Mentawai, saya mendesak para pastor menggunakan lagu hasil lokakarya. Kalau tidak, percuma saja! Saya mengajarkan lagu baru kepada umat Tuapeijat, sepuluh menit sebelum Misa Kudus dimulai. (hrd)

About

Check Also

Ekaristi MINGGU BIASA XXIV/B, 16 SEPTEMBER 2018

Menghayati hidup dalam Ekaristi Ketika kita mengambil keputusan untuk bertindak terhadap kebaikan diri kita, keluarga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *