Home / Liturgi / Ekaristi RABU BIASA VI, 20 FEBRUARI 2019

Ekaristi RABU BIASA VI, 20 FEBRUARI 2019

Antifon Pembukaan – Mazmur 116:1819

 Aku akan menepati nadarku kepada Tuhan
    di depan seluruh umat-Nya di pelataran bait Allah.

Pengantar

Tuhan selalu memberi kesempatan baru. Sesudah air bah Ia mau mencoba lagi asal ada itikad baik. Injil mengajarkan pula, bahwa iman kita lambat laun berkembang menghayati anugerah-anugerah Tuhan.

Doa Pembukaan

Marilah bedoa:
Allah Bapa mahasetia,
Engkau selalu tetap setia
bila kami menepati sabda-Mu dengan tulus ikhlas.
Semoga Kaubuka mata hati budi kami,
agar dapat memandang Putra-Mu terkasih,
yang memang Kautunjukkan kepada kami
bahwa Dialah kehidupan kami.
Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….

Bacaan Pertama – Kejadian 8:6-13.20-22

Sesudah air bah, kedurhakaan hati manusia semakin jelas: sejak masih muda hatinya telah tertarik kepada kejahatan. Tetapi sekarang ada alasan, bila Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya. Musa akan lebih maju lagi Bila umat berdosa, maka Musalah yang berusaha agar mereka bertobat. Kristus lebih lagi! Ia sudi menjelma menyertai manusia dosa dan membebaskan dia sepenuhnya.

Nuh melihat-lihat; ternyata muka bumi sudah mulai kering.

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Pada waktu itu air bah sudah mulai surut. Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak. Dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air menjadi kering di atas bumi.

Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air telah berkurang dari muka bumi Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tumpuan kaki dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera, karena di seluruh bumi masih ada air. Lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu. Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun Zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu; tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya.

Maka dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudah keringlah air dari atas bumi. Kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat ternyatalah muka bumi sudah mulai kering.

Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan. Dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram, diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan kurban bakaran di atas mezbah itu. Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, bersabdalah Tuhan dalam hati-Nya, “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya; Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 116:12.-13.14-15.18-19

Ref: Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, ya Tuhan.
        Atau: Alleluya.

Mazmur:

 Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan
    segala kebaikan-Nya kepadaku?
    Aku akan mengangkat piala keselamatan,
    dan akan menyerukan nama Tuhan.

 Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan
    di depan seluruh umat-Nya.
    Sungguh berhargalah di mata Tuhan
    kematian semua orang yang dikasihi-Nya.

 Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan
    di depan seluruh umat-Nya,
    di pelataran rumah Tuhan,
    di tengah-tengahmu, ya Yerusalem.

 

BAIT PENGANTAR INJIL – lh. Ef 1:17-18

S: Alleluya.
U: Alleluya.
S: Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus
menerangi kata hati kita,
supaya kita memahami pengharapan
yang terkandung dalam panggilan kita.
U: Alleluya.

Bacaan Injil – Markus 8:22-26

Sembuhnya si buta dikisahkan dengan mengingat persiapan pembaptisan pada waktu itu. Semuanya memerlukan waktu. Sebelum yakin benar, orang harus menyesuaikan diri dengan suasana iman. Dan iman itu berwujud pertemuan pribadi. Itulah yang memerlukan waktu.

Si buta itu sembuh, dan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon supaya Ia menjamah dia. Yesus lalu memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata si buta, dan meletakkan tangan di atasnya, Ia bertanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang! Kulihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan.” Yesus kemudian meletakkan tangan-Nya lagi pada mata orang itu. Maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke kampung!”

Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus

Doa Persembahan

Allah Bapa mahabaik,
sembuhkanlah kiranya kebutaan kami,
dan semoga kami melihat jalan hidup kami
berkat roti anggur ini,
berkat Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

Antifon Komuni – Mazmur 116:12-13

 Bagaimana akan kubalas segala kebaikan Tuhan terhadapku?
    Aku mengangkat piala untuk merayakan keselamatan
    sambil menyerukan nama Tuhan.

Doa Sesudah Komuni

Marilah berdoa:
Allah Bapa mahabaik,
kami bersyukur karena dunia bagi kami tampak baru
dalam diri Yesus, Sabda kesanggupan-Mu.
Semoga kami saling bergaul dengan jujur
serta saling mengusahakan kedamaian.
Demi Kristus, ….

About gema

Check Also

Ekaristi KAMIS PEKAN PASKAH IV, 16 Mei 2019

Antifon Pembukaan – Mazmur 68:8.9.20  Ya Allah, ketika Engkau tampil di depan umat-Mu, melangkah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *