Doa adalah Anugrah Allah (Renungan Hari Minggu Biasa XXIX, 16 Oktober 2016)

Doa adalah Anugrah Allah
Hari Minggu Biasa XXIX, 16 Oktober 2016
Hari Minggu Evangelisasi
Kel 17:8-13; 2Tim 3:14 – 4:2;
Luk 18:1-8

BACAAN PERTAMA dan Injil hari ini mengajak kita tetap tabah di dalam doa dan dengan rasa hormat serta penuh cinta mengajukan permohonan yang tidak putus-putusnya kepada Allah yang setia dan Mahamurah. Sikap tidak mengenal lelah dan terus berusaha kendati mengalami kekeringan dan kejenuhan tidak mengurangi makna doa sebagai anugerah Allah. “… sebab sebenarnya kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26). Betul sekali kalau dikatakan bahwa di dalam doa Allah sendiri yang terlebih dulu mengundang kita; Allah yang berinisiatif. Dengan cara yang menge­sankan Santo Yohanes melukiskan pemahaman doa tersebut dalam kisah percakapan antara Yesus dengan wanita Samaria di pinggir sumur Yakub. Dalam percakapan itu dinyatakan bahwa Yesuslah yang minta air minum. “Berilah Aku minum,” kata-Nya (Yoh 4:7).

Tuhan Yesus merasa haus, rindu kepada kita. Dialah yang pertama kali mencari kita. Melalui doa kita makin mengenali dan mengalami kebaikan dan belaskasihan Allah itu. Doa menjadi jalan bagi kita untuk memupuk relasi dengan Allah. Hati yang merupakan pusat hidup, menjadi tempat bagi doa untuk hidup dan berkembang karena doa merupakan anugerah Allah.

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus adalah contoh pendoa yang sangat setia. Kita menggambarkan hidupnya bagaikan sekuntum bunga mawar yang indah. Tetapi di dalam kenyataannya hidup Santa Teresia penuh dengan duri-duri penderitaan yang panjang dan melelahkan. Tubuhnya yang kecil tidak henti-hentinya digerogoti penyakit pendarahan dan tubercolosis. Doa-doanya pada Allah yang berisikan pengalaman penderitaan, kesepian, kelelahan, dan kesedihannya merupakan doa yang sungguh terasa kekuatannya. Justru doa-doa itulah yang menjadikan Santa Teresia sebagai model penghayatan doa di saat kita menghadapi berbagai macam tekanan dan masalah hidup.

Doa yang dipahami sebagai anugerah rahmat Allah, seperti yang dihayati oleh Santa Teresia tidak mengurangi keharusan kita untuk terus berusaha sekuat tenaga. Doa berarti berjuang tanpa kenal lelah melawan diri sendiri karena sering mengalami kejenuhan dan kekeringan di dalam berdoa. Di samping itu perjuangan di dalam doa juga dimaksudkan untuk melawan tipu muslihat penggoda yang juga berusaha keras untuk mencegah kita untuk selalu berdoa. Tetap bertahan di dalam doa perlu dilandasi dengan semangat cinta, sikap rendah hati, dan penuh kepercayaan. Berkaitan dengan perjuangan dalam doa, kita dapat mengambil inspirasi dari bacaan pertama yang mengisahkan doa syafaat Musa demi keselamatan bangsanya. Karena hu­bungannya yang mesra dengan Allah, Musa menjadi perantara doa untuk kepentingan bangsanya.

Kita mengenal Musa sebagai nabi besar. Di dalam Perjanjian Lama, Musa dikisahkan seba­gai orang yang dapat berbicara dengan Tuhan dengan berha­dapan muka se­perti berbicara kepada temannya. (Kel 33:11). Karena ketahanan Musa dalam ber­doa sangat me­nentukan ke­ber­hasilan bangsa Israel meng­alahkan bangsa Amalek musuhnya. Kita juga melihat pentingnya doa bersama dan doa demi kepentingan pihak lain. Men­doakan kepentingan orang lain termasuk mereka yang berbuat jahat kepada kita merupakan bentuk doa yang sangat ditekankan oleh tradisi kita. Tuhan yang murah hati dan setia, yang dengan segera menanggapi permohonan doa kita merupakan salah satu tema pokok dari bacaan ketiga. Sifat dan sikap Tuhan yang tidak pernah mengulur waktu untuk menolong kita menjadi pendorong bagi kita untuk menanggapi dengan penuh semangat ajakan Yesus agar selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Menyam­paikan permohonan kepada Allah merupakan bentuk doa yang meng­ungkapkan relasi ketergantungan hidup sebagai makhluk ciptaan. Sikap kerendahan hati yang penuh kepercayaan justru membantu kita untuk makin mengenali dan memahami kemurahan hati dan belaskasihan-Nya. Dalam doa, hendaklah kita pertama-tama memohon terlaksananya Kerajaan Allah, baru setelah itu segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menerimanya dan untuk turut serta demi kedatangan Kerajaan Allah tersebut.

Ekaristi Hari ini: MINGGU BIASA XXIX/c, 16 OKTOBER 2016…. Klik disini!!

About

Check Also

Ekaristi KAMIS BIASA XXXI, 5 November 2020

Antifon Pembukaan – Mazmur 105:4-5  Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya! Ingatlah perbuatan-perbuatan …

Leave a Reply