Mengakui Yesus Tuhan (Renungan MINGGU PALMA: 9 April 2017)

Mengakui Yesus Tuhan
Hari Minggu Palma (9 April 2017)
Mat 21:1-11; Yes 50:4-7; Flp 2:6-11;
Mat 26:14-27

HARI MINGGU Palma merupakan awal perayaan liturgi Pekan Suci yang merupakan puncak perayaan liturgi Gereja. Selama sepekan Gereja mengenangkan secara kronologis; prosesi Yesus memasuki kota Yerusalem (Hari Minggu Palem), perjamuan Malam Terakhir (Hari Kamis Putih), sengsara dan wafat Yesus di kayu salib (Hari Jumat Agung), dan akhirnya kebangkitan Yesus dari maut (Hari Sabtu Suci dan Minggu Paskah). Dari kronologi peristiwa itu jelas sesungguhnya fungsi perayaan liturgi Hari Minggu Palma, sebagai persiapan perayaan liturgi Tri Hari Suci (Paskah). Yesus memasuki Yerusalem untuk dinobatkan sebagai Raja Israel (Mesias) oleh Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Prosesi Yesus memasuki Yerusalem adalah persiapan penobatan-Nya sebagai Raja Israel pada waktu kebangkitan-Nya. Karena itu peristiwa Yesus memasuki Yerusalem hanya dapat dimengerti dalam terang kebangkitan-Nya.

Bacaan yang diambil dari Kitab Yesaya hari ini merupakan lagu ketiga dari keempat lagu hamba Tuhan yang terdapat dalam Kitab Yesaya tersebut. Sama dengan ke tiga lagu hamba Tuhan lainnya, lagu ketiga ini juga melukiskan suka duka hamba Tuhan dalam melaksanakan perutusan-Nya. Kitab Nabi Yesaya bab lima puluh ayat empat sampai sembilan melukiskan suka duka hamba Tuhan yang diutus untuk memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu, menderita dan sengsara. Dalam melaksanakan perutusan khusus ini, hamba Tuhan taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan Allah, seperti ketaatan seorang murid kepada gurunya. Meski mendapat banyak perlawanan dari para musuh, hamba Tuhan tetap setia melaksanakan perutusannya, sebab ia yakin bahwa Tuhan Allah pasti akan menolong dia. Ketaatan hamba Tuhan seperti dilukiskan dalam Yes 50:4-9 ini dapat menjelaskan dengan baik sikap tegar Yesus memasuki Yerusalem, meski Ia tahu dengan pasti bahwa di sana Ia akan ditangkap dan dibunuh.

Banyak pakar Kitab Suci menganggap bacaan yang diambil dari Flp 2:6-11 ini sebagai lagu tentang Yesus Kristus, yang dulu dikarang untuk keperluan ibadat, yang kemudian dikutip dan diedit oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Menurut para pakar, lagu ini terdiri dari empat bait, yang masing-masing menonjolkan keistimewaan Yesus Kristus. Pertama (ayat 6-7a) menonjolkan pengosongan diri Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah sudi mengambil rupa seorang hamba. Kedua (ayat 7b-8) menonjolkan perendahan diri Yesus Kristus, yang dalam keadaan sebagai manusia, sudi merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Ketiga (ayat 9) menonjolkan peninggian diri Yesus Kristus, yang oleh Allah dikaruniai nama di atas segala nama. Keempat (ayat 10-11) menonjolkan pemuliaan diri Yesus Kristus, yang disembah dan diakui oleh segala ciptaan. Dengan demikian lagu tentang Yesus Kristus ini menempatkan kematian Yesus Kristus di kayu salib ini pada pusat permenuangan. Kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah titik terendah diri-Nya, dan sekaligus dasar peninggian dan pemuliaan diri-Nya. Menurut rencana Allah, Yesus Kritus memang harus mati di kayu salib dan kemudian bangkit dari mati, supaya segala lutut bertekuk dan segala lidah mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan (Flp 2:10-11).

Dalam kisah sengsara Yesus Kristus ini, Matius secara khusus menonjolkan pemuliaan Yesus sebagai raja Israel (Mesias), yang justru terjadi dalam penghinaan. Dalam kisah prosesi Yesus memasuki Yerusalem, Matius telah memaklumkan Yesus sebagai Raja Israel. Selanjutnya dalam kisah pengadilan Yesus oleh Mahkamah Agama, kisah pengadilan Yesus oleh Pilatus, kisah pengolok-olokan Yesus oleh para serdadu, kisah penyaliban Yesus, dan kisah kematian Yesus, Matius terus menerus memaklumkan Yesus sebagai Raja Israel melalui mulut imam besar Kayafas, para anggota mahkamah agama, wali negeri Pilatus, para serdadu dan orang banyak. Bahkan tulisan yang terpasang pada kayu salib Yesus, yang sebetulnya dimaksudkan sebagai penghinaan, dengan lantang memaklumkan: Inilah Yesus raja orang Yahudi. Akhirnya pada waktu kematian Yesus, kepala pasukan dan para prajurit penjaga di sekitar Yesus, dengan resmi memaklumkan: “Sungguh, Ia ini adalah anak Allah”. Dengan demikian penghinaan yang dialami Yesus dalam pengadilan, pengolokan, penyaliban dan kematian secara paradoks justru menjadi pemuliaan bagi diri-Nya.

Ekaristi hari ini: MINGGU PALMA: 9 April 2017 (MENGENANG SENGSARA TUHAN)… Klik disini!!

About

Check Also

Ekaristi Minggu 6 juni 2021: Tubuh dan Darah Kristus (HR)

Menghayati Ekaristi dalam hidupKebersamaan yang mau diperkembangkan oleh Kristus di antar umat manusia, membawa mereka …

Leave a Reply