Mengasihi Sesama (Renungan JUMAT PRAPASKAH III, 24 Maret 2017 Oleh Fr. Benediktus Bagus Hanggoro K.)

Jumat, 24 Maret 2017 (Hari Biasa Pekan III Prapaskah)

Bacaan: Hos 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a, 8bc-9, 10-11ab, 14, 17; Mrk 12: 28b-34

Kasihilah Tuhan, Allahmu… kasihilah sesamamu manusia.” (bdk. Mrk 12:30-31)

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat dikejutkan oleh pernyataan seorang teman yang sangat bangga bahwa ia pernah berciuman dengan pacarnya dengan teknik-teknik ciuman yang menurutnya adalah teknik yang cihuy aduhai. Ia menceritakannya dengan sangat antusias, bahkan kepada teman-teman yang hadir di situ, termasuk dengan saya, ia mengumbar rencananya untuk berhubungan badan dengan pacarnya. Mendengar hal itu sebagai seorang manusia tentu saya tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa saya juga ingin seperti apa yang dilakukan teman saya tersebut. Tetapi tentu saja, hal itu tidak sesuai dengan etika Kristiani, bahkan etika yang berlaku di masyarakat kita yang memegang teguh prinsip-prinsip luhur nenek moyang bangsa. Saya pribadi pada akhirnya hanya diam saja dan berdoa, “Semoga tidak terjadi”. Sesudah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya sampai akhirnya saya tahu bahwa teman saya putus dengan pacarnya tersebut.

Berbicara tentang cinta, kebanyakan orang akan membayangkan cinta eros, yaitu cinta yang dilandasi oleh nafsu semata, yang kebanyakan adalah nafsu seksual. Bayangan akan beralih pada bagaimana memuaskan pasangan dalam hubungan dan segala macam cara akan ditempuh. Memang ada positif, tetapi cinta eros akan membawa kita pada bahaya akan memandang pasangan kita atau bisa jadi teman-teman, bahkan saudarapun bisa jadi akan menjadi obyek pemuasan nafsu semata. Ini berbahaya bagi kita karena dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang egois dan mementingkan diri sendiri ketimbang diri orang lain yang sama berharganya sebagai manusia.

Permenungan hari ini mengantar kita untuk menghayati cinta agape. Cinta agape adalah cinta persaudaraan, cinta yang dilandasi oleh ketulusan dan kemurnian hati untuk semata-mata menyayangi pasangan, menyayangi sesama sebagai makhluk Tuhan yang berharga. Mengasihi sesama manusia dan menghormati dirinya sebagai seorang manusia sama halnya dengan mengasihi Allah sebagai Penciptanya, karena pada dasarnya manusia adalah secitra dengan Allah. Ia digambar menurut rupa Allah. Jadi, sangat jelas bagi kita bahwa jika kita hanya memandang pasangan kita, teman-teman kita, bahkan saudara kita sebatas cinta yang dilandasi oleh nafsu semata, itu adalah bentuk ketidakhormatan kita pada Allah sebagai Sang Pencipta. Dalam bahasa kekinian, Allah itu di-“nista”-kan oleh nafsu jahat.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita menghidupi cinta agape, cinta yang dilandasi oleh kasih persaudaraan dan ketulusan hati untuk menyayangi sesama sebagai manusia seutuhnya. Dalam masa Prapaskah dan Tahun Martyria ini, permenungan hari ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang altruis, yang turut memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepada orang lain dan tidak hanya untuk diri sendiri. Kita diundang menjadi saksi Allah yang mewartakan kasih Allah yang agung dan merangkul semua orang lewat tutur kata, perasaan, dan tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa memulai dengan menyapa teman/saudara/rekan kerja kita dengan ramah, mengunjungi tetangga yang sedang sakit, dan tidak segan menolong siapapun yang membutuhkan bantuan kita. Semoga dengan semangat pertobatan kita dapat menjadi pribadi yang penuh kasih sebagaimana Allah adalah kasih. (bdk. 1Yoh 4:16).

Tuhan, jadikanlah aku bentara kasih-Mu bagi sesama. Amin. (Fr. Benediktus Bagus Hanggoro K.)

Ekaristi hari ini: JUMAT PRAPASKAH III, 24 Maret 2017… Klik disini!!

About

Check Also

Ekaristi KAMIS BIASA XXXI, 5 November 2020

Antifon Pembukaan – Mazmur 105:4-5  Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya! Ingatlah perbuatan-perbuatan …

Leave a Reply