Ekaristi inkulturasi: Perayaan Ekaristi inkulturasi di Stasi St Petrus Tua Pejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat - [HIDUP/A. Benny Sabdo]

Perayaan Ekaristi inkulturasi di Stasi St Petrus Tua Pejat – Paroki St Yosef Sipora

Gereja di Mentawai telah dirintis sejak awal 1900. Kini, umat Katolik di Mentawai tengah mewujudkan semangat “garam dan terang” di tengah masyarakat yang plural.

Kapal cepat Sikerei melaju kencang menembus lautan lepas Samudera Hindia di sebelah barat kota Padang, Sumatra Barat, suatu pagi di penghujung Februari lalu. Tak lama, beberapa penumpang sudah tertidur pulas. Setelah sekitar tujuh jam mengarungi lautan sejauh 100 kilometer, perlahan kapal melambat. Dermaga Tuapejat sudah di depan mata.

Penumpang yang hanya berjumlah belasan itu pun satu per satu turun dari kapal. Suasana sepi. Ini memang perjalanan ke Mentawai yang tak lazim, berangkat saat mentari baru saja terbit. Ya, memang tidak terlalu ramai, karena biasanya ratusan pedagang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur di pinggir kota Padang pada sore hari. Mereka ini baru sampai Mentawai pada keesokan harinya. Perjalanan itu pun hanya seminggu sekali.

Siang itu, rombongan tiba di Gereja Stasi St Petrus Tuapejat yang masuk dalam wilayah Paroki St Yosef Sipora. Gereja itu terletak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Tak terasa matahari telah bergulir ke barat. Sore itu, Pastor Bernard Lie, yang bertugas di stasi itu, terlihat sibuk mendandani bocah-bocah dengan pakaian adat Mentawai. Dari dalam lemari, ia juga mengeluarkan beraneka pakaian adat, seperti Jawa, Minang, Tionghoa, Flores, dan Batak.

Bocah-bocah bukan hendak karnaval. Mereka didaulat menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap. “Gereja sedang getol mengajak umat semakin bangga sebagai orang Mentawai yang Katolik,” ujar Pastor Bernard di sela-sela kesibukannya itu. Akhir tahun lalu, Gereja Katolik di Mentawai mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) di Siberut. Tema inkulturasi juga dikampanyekan kepada sekitar 350 orang muda. “Pagelaran ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah Gereja di Mentawai,” katanya.

Ekaristi inkulturasi: Perayaan Ekaristi inkulturasi di Stasi St Petrus Tua Pejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat - [HIDUP/A. Benny Sabdo]
Ekaristi inkulturasi: Perayaan Ekaristi inkulturasi di Stasi St Petrus Tua Pejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat – [HIDUP/A. Benny Sabdo]

Baru-baru ini, Gereja juga menggandeng pemerintah daerah dengan menggelar seminar kebudayaan mengangkat isu terkait bahasa, batik, dan rumah adat Mentawai. Seminar yang dihadiri para tokoh adat, utusan dari 10 kecamatan, dan pemerintah daerah itu merekomendasikan supaya dibuat peraturan daerah tentang budaya Mentawai.

Antropolog lulusan Universitas Indonesia, yang juga umat Stasi Tuapejat, Miko Siregar, mengatakan, “Gereja Katolik mudah diterima masyarakat Mentawai, karena melalui pendekatan inkulturasi.” Inkulturasi ini, menurut Miko, nampak dalam upaya penerjemahan Alkitab dan ibadat memakai bahasa Mentawai. Ia memperkirakan jumlah umat Katolik di Mentawai mencapai 30 persen. Miko berharap bahwa apresiasi Gereja terhadap budaya harus didorong, agar masyarakat Mentawai tak kehilangan identitas.

Hidup Katolik

Gereja di Mentawai telah dirintis sejak awal 1900. Kini, umat Katolik di Mentawai tengah mewujudkan semangat “garam dan terang” di tengah masyarakat yang plural.

Kapal cepat Sikerei melaju kencang menembus lautan lepas Samudera Hindia di sebelah barat kota Padang, Sumatra Barat, suatu pagi di penghujung Februari lalu. Tak lama, beberapa penumpang sudah tertidur pulas. Setelah sekitar tujuh jam mengarungi lautan sejauh 100 kilometer, perlahan kapal melambat. Dermaga Tuapejat sudah di depan mata.

Penumpang yang hanya berjumlah belasan itu pun satu per satu turun dari kapal. Suasana sepi. Ini memang perjalanan ke Mentawai yang tak lazim, berangkat saat mentari baru saja terbit. Ya, memang tidak terlalu ramai, karena biasanya ratusan pedagang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur di pinggir kota Padang pada sore hari. Mereka ini baru sampai Mentawai pada keesokan harinya. Perjalanan itu pun hanya seminggu sekali.

Siang itu, rombongan tiba di Gereja Stasi St Petrus Tuapejat yang masuk dalam wilayah Paroki St Yosef Sipora. Gereja itu terletak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Tak terasa matahari telah bergulir ke barat. Sore itu, Pastor Bernard Lie, yang bertugas di stasi itu, terlihat sibuk mendandani bocah-bocah dengan pakaian adat Mentawai. Dari dalam lemari, ia juga mengeluarkan beraneka pakaian adat, seperti Jawa, Minang, Tionghoa, Flores, dan Batak.

Bocah-bocah bukan hendak karnaval. Mereka didaulat menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap. “Gereja sedang getol mengajak umat semakin bangga sebagai orang Mentawai yang Katolik,” ujar Pastor Bernard di sela-sela kesibukannya itu. Akhir tahun lalu, Gereja Katolik di Mentawai mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) di Siberut. Tema inkulturasi juga dikampanyekan kepada sekitar 350 orang muda. “Pagelaran ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah Gereja di Mentawai,” katanya.

Baru-baru ini, Gereja juga menggandeng pemerintah daerah dengan menggelar seminar kebudayaan mengangkat isu terkait bahasa, batik, dan rumah adat Mentawai. Seminar yang dihadiri para tokoh adat, utusan dari 10 kecamatan, dan pemerintah daerah itu merekomendasikan supaya dibuat peraturan daerah tentang budaya Mentawai.

Antropolog lulusan Universitas Indonesia, yang juga umat Stasi Tuapejat, Miko Siregar, mengatakan, “Gereja Katolik mudah diterima masyarakat Mentawai, karena melalui pendekatan inkulturasi.” Inkulturasi ini, menurut Miko, nampak dalam upaya penerjemahan Alkitab dan ibadat memakai bahasa Mentawai. Ia memperkirakan jumlah umat Katolik di Mentawai mencapai 30 persen. Miko berharap bahwa apresiasi Gereja terhadap budaya harus didorong, agar masyarakat Mentawai tak kehilangan identitas. – See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/04/03/gereja-inkulturasi-gaya-mentawai#sthash.aZp95C42.dpuf

Gereja di Mentawai telah dirintis sejak awal 1900. Kini, umat Katolik di Mentawai tengah mewujudkan semangat “garam dan terang” di tengah masyarakat yang plural.

Kapal cepat Sikerei melaju kencang menembus lautan lepas Samudera Hindia di sebelah barat kota Padang, Sumatra Barat, suatu pagi di penghujung Februari lalu. Tak lama, beberapa penumpang sudah tertidur pulas. Setelah sekitar tujuh jam mengarungi lautan sejauh 100 kilometer, perlahan kapal melambat. Dermaga Tuapejat sudah di depan mata.

Penumpang yang hanya berjumlah belasan itu pun satu per satu turun dari kapal. Suasana sepi. Ini memang perjalanan ke Mentawai yang tak lazim, berangkat saat mentari baru saja terbit. Ya, memang tidak terlalu ramai, karena biasanya ratusan pedagang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur di pinggir kota Padang pada sore hari. Mereka ini baru sampai Mentawai pada keesokan harinya. Perjalanan itu pun hanya seminggu sekali.

Siang itu, rombongan tiba di Gereja Stasi St Petrus Tuapejat yang masuk dalam wilayah Paroki St Yosef Sipora. Gereja itu terletak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Tak terasa matahari telah bergulir ke barat. Sore itu, Pastor Bernard Lie, yang bertugas di stasi itu, terlihat sibuk mendandani bocah-bocah dengan pakaian adat Mentawai. Dari dalam lemari, ia juga mengeluarkan beraneka pakaian adat, seperti Jawa, Minang, Tionghoa, Flores, dan Batak.

Bocah-bocah bukan hendak karnaval. Mereka didaulat menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap. “Gereja sedang getol mengajak umat semakin bangga sebagai orang Mentawai yang Katolik,” ujar Pastor Bernard di sela-sela kesibukannya itu. Akhir tahun lalu, Gereja Katolik di Mentawai mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) di Siberut. Tema inkulturasi juga dikampanyekan kepada sekitar 350 orang muda. “Pagelaran ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah Gereja di Mentawai,” katanya.

Baru-baru ini, Gereja juga menggandeng pemerintah daerah dengan menggelar seminar kebudayaan mengangkat isu terkait bahasa, batik, dan rumah adat Mentawai. Seminar yang dihadiri para tokoh adat, utusan dari 10 kecamatan, dan pemerintah daerah itu merekomendasikan supaya dibuat peraturan daerah tentang budaya Mentawai.

Antropolog lulusan Universitas Indonesia, yang juga umat Stasi Tuapejat, Miko Siregar, mengatakan, “Gereja Katolik mudah diterima masyarakat Mentawai, karena melalui pendekatan inkulturasi.” Inkulturasi ini, menurut Miko, nampak dalam upaya penerjemahan Alkitab dan ibadat memakai bahasa Mentawai. Ia memperkirakan jumlah umat Katolik di Mentawai mencapai 30 persen. Miko berharap bahwa apresiasi Gereja terhadap budaya harus didorong, agar masyarakat Mentawai tak kehilangan identitas. – See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/04/03/gereja-inkulturasi-gaya-mentawai#sthash.aZp95C42.dpuf

Gereja di Mentawai telah dirintis sejak awal 1900. Kini, umat Katolik di Mentawai tengah mewujudkan semangat “garam dan terang” di tengah masyarakat yang plural.

Kapal cepat Sikerei melaju kencang menembus lautan lepas Samudera Hindia di sebelah barat kota Padang, Sumatra Barat, suatu pagi di penghujung Februari lalu. Tak lama, beberapa penumpang sudah tertidur pulas. Setelah sekitar tujuh jam mengarungi lautan sejauh 100 kilometer, perlahan kapal melambat. Dermaga Tuapejat sudah di depan mata.

Penumpang yang hanya berjumlah belasan itu pun satu per satu turun dari kapal. Suasana sepi. Ini memang perjalanan ke Mentawai yang tak lazim, berangkat saat mentari baru saja terbit. Ya, memang tidak terlalu ramai, karena biasanya ratusan pedagang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur di pinggir kota Padang pada sore hari. Mereka ini baru sampai Mentawai pada keesokan harinya. Perjalanan itu pun hanya seminggu sekali.

Siang itu, rombongan tiba di Gereja Stasi St Petrus Tuapejat yang masuk dalam wilayah Paroki St Yosef Sipora. Gereja itu terletak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Tak terasa matahari telah bergulir ke barat. Sore itu, Pastor Bernard Lie, yang bertugas di stasi itu, terlihat sibuk mendandani bocah-bocah dengan pakaian adat Mentawai. Dari dalam lemari, ia juga mengeluarkan beraneka pakaian adat, seperti Jawa, Minang, Tionghoa, Flores, dan Batak.

Bocah-bocah bukan hendak karnaval. Mereka didaulat menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap. “Gereja sedang getol mengajak umat semakin bangga sebagai orang Mentawai yang Katolik,” ujar Pastor Bernard di sela-sela kesibukannya itu. Akhir tahun lalu, Gereja Katolik di Mentawai mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) di Siberut. Tema inkulturasi juga dikampanyekan kepada sekitar 350 orang muda. “Pagelaran ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah Gereja di Mentawai,” katanya.

Baru-baru ini, Gereja juga menggandeng pemerintah daerah dengan menggelar seminar kebudayaan mengangkat isu terkait bahasa, batik, dan rumah adat Mentawai. Seminar yang dihadiri para tokoh adat, utusan dari 10 kecamatan, dan pemerintah daerah itu merekomendasikan supaya dibuat peraturan daerah tentang budaya Mentawai.

Antropolog lulusan Universitas Indonesia, yang juga umat Stasi Tuapejat, Miko Siregar, mengatakan, “Gereja Katolik mudah diterima masyarakat Mentawai, karena melalui pendekatan inkulturasi.” Inkulturasi ini, menurut Miko, nampak dalam upaya penerjemahan Alkitab dan ibadat memakai bahasa Mentawai. Ia memperkirakan jumlah umat Katolik di Mentawai mencapai 30 persen. Miko berharap bahwa apresiasi Gereja terhadap budaya harus didorong, agar masyarakat Mentawai tak kehilangan identitas. – See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/04/03/gereja-inkulturasi-gaya-mentawai#sthash.aZp95C42.dpuf

Gereja di Mentawai telah dirintis sejak awal 1900. Kini, umat Katolik di Mentawai tengah mewujudkan semangat “garam dan terang” di tengah masyarakat yang plural.Kapal cepat Sikerei melaju kencang menembus lautan lepas Samudera Hindia di sebelah barat kota Padang, Sumatra Barat, suatu pagi di penghujung Februari lalu. Tak lama, beberapa penumpang sudah tertidur pulas. Setelah sekitar tujuh jam mengarungi lautan sejauh 100 kilometer, perlahan kapal melambat. Dermaga Tuapejat sudah di depan mata.Penumpang yang hanya berjumlah belasan itu pun satu per satu turun dari kapal. Suasana sepi. Ini memang perjalanan ke Mentawai yang tak lazim, berangkat saat mentari baru saja terbit. Ya, memang tidak terlalu ramai, karena biasanya ratusan pedagang berangkat dari pelabuhan Teluk Bayur di pinggir kota Padang pada sore hari. Mereka ini baru sampai Mentawai pada keesokan harinya. Perjalanan itu pun hanya seminggu sekali.

Siang itu, rombongan tiba di Gereja Stasi St Petrus Tuapejat yang masuk dalam wilayah Paroki St Yosef Sipora. Gereja itu terletak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Tak terasa matahari telah bergulir ke barat. Sore itu, Pastor Bernard Lie, yang bertugas di stasi itu, terlihat sibuk mendandani bocah-bocah dengan pakaian adat Mentawai. Dari dalam lemari, ia juga mengeluarkan beraneka pakaian adat, seperti Jawa, Minang, Tionghoa, Flores, dan Batak.

Bocah-bocah bukan hendak karnaval. Mereka didaulat menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap. “Gereja sedang getol mengajak umat semakin bangga sebagai orang Mentawai yang Katolik,” ujar Pastor Bernard di sela-sela kesibukannya itu. Akhir tahun lalu, Gereja Katolik di Mentawai mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) di Siberut. Tema inkulturasi juga dikampanyekan kepada sekitar 350 orang muda. “Pagelaran ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah Gereja di Mentawai,” katanya.

Baru-baru ini, Gereja juga menggandeng pemerintah daerah dengan menggelar seminar kebudayaan mengangkat isu terkait bahasa, batik, dan rumah adat Mentawai. Seminar yang dihadiri para tokoh adat, utusan dari 10 kecamatan, dan pemerintah daerah itu merekomendasikan supaya dibuat peraturan daerah tentang budaya Mentawai.

Antropolog lulusan Universitas Indonesia, yang juga umat Stasi Tuapejat, Miko Siregar, mengatakan, “Gereja Katolik mudah diterima masyarakat Mentawai, karena melalui pendekatan inkulturasi.” Inkulturasi ini, menurut Miko, nampak dalam upaya penerjemahan Alkitab dan ibadat memakai bahasa Mentawai. Ia memperkirakan jumlah umat Katolik di Mentawai mencapai 30 persen. Miko berharap bahwa apresiasi Gereja terhadap budaya harus didorong, agar masyarakat Mentawai tak kehilangan identitas. – See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/04/03/gereja-inkulturasi-gaya-mentawai#sthash.aZp95C42.dpuf

About gema

Leave a Reply