Perubahan Dalam Hidup (Renungan Rabu, 25 Januari 2017: Pesta Bertobatnya Rasul Santo Paulus Oleh Fr. Benediktus Bagus Hanggoro)

Rabu, 25 Januari 2017 (Pesta Bertobatnya Santo Paulus)

Bacaan: Kis 22:3-16 atau Kis 9:1-22; Mrk 16:15-18

Seseorang dalam suatu waktu tertentu akan mengalami perubahan drastis dalam hidupnya, entah itu perubahan ke arah positif ataupun ke arah negatif. Perubahan yang positif adalah sesuatu yang baik dan perlu ditingkatkan, sementara perubahan yang negatif perlu diarahkan kepada yang lebih baik supaya tidak tersesat dan sampai pada suatu kebenaran. Beberapa kali saya menemukan perubahan dalam diri saya dan teman sekomunitas saya, entah itu di seminari menengah ataupun di seminari tinggi. Saya berusaha untuk menyadari dengan sungguh apakah ini baik atau tidak. Jika baik, saya memakai prinsip “harus ditingkatkan”, sementara kalau tidak baik, saya berusaha kembali ke semula supaya saya tidak “salah jalan”. Itu juga saya lakukan apabila teman sekomunitas saya mulai mengalami perubahan dalam kehidupannya, entah itu soal karakter atau kelakuannya.

Saudara-saudari terkasih, bacaan-bacaan hari ini menerangkan kepada kita apa arti suatu perubahan dalam hidup kita. Saulus mengalami perubahan dalam hidupnya setelah Tuhan menampakkan diri dalam cahaya-Nya yang kilau-kemilau sehingga menyilaukan dan membutakan matanya. Cahaya Tuhan yang berkilau memperbaharui hidup Saulus sehingga hatinya yang jahat dan ambisius untuk mengejar, menangkap, dan membunuh murid-murid Tuhan di Damsyik berubah menjadi hati yang lembut dan berkobar dalam mewartakan Injil.

Cahaya Tuhan yang memperbaharui tersebut sesungguhnya sering kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari. Teguran dari orang tua, saudara, sahabat, atasan, dan orang-orang terdekat adalah bentuk “cahaya Tuhan” yang lain, yang berusaha untuk mengubah hati yang keras membatu menjadi lembut. Pengalaman-pengalaman hidup tertentu, seperti mengalami kebangkrutan atau krisis keuangan, bisa jadi juga merupakan “cahaya Tuhan” yang menyadarkan diri bahwa diri kita sendiri tetap membutuhkan kekuatan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.

Saudara-saudari terkasih, melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk menyadari diri sejauh mana kita mengarahkan hidup kita: apakah itu ke arah yang baik atau ke arah yang jahat. Jika kita menyadari bahwa hidup kita masih berada di jalan yang “salah”, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai perubahan. Jangan menunda-nunda untuk berubah, karena dengan demikian kita juga menunda rahmat Allah yang mengagumkan bekerja dalam diri kita. Semoga kita semakin digugah untuk mengikuti jalan Tuhan, yaitu jalan cinta kasih.

Tuhan, melalui teladan Santo Paulus, kami sadar bahwa kami perlu berubah menjadi murid yang mengikuti jalan-Mu, yaitu jalan cinta kasih. Semoga kami tidak menunda-nunda kesempatan untuk berubah dan bertobat supaya rahmat-Mupun dapat bekerja dan mengubah hati kami dari keras membatu menjadi lembut seperti hati-Mu. Amin. (Fr. Benediktus Bagus Hanggoro K.)

Liturgi Hari ini: Rabu, 25 Januari 2017: Pesta Bertobatnya Rasul Santo Paulus….Klik disini!!

About

Check Also

Ekaristi Minggu 6 juni 2021: Tubuh dan Darah Kristus (HR)

Menghayati Ekaristi dalam hidupKebersamaan yang mau diperkembangkan oleh Kristus di antar umat manusia, membawa mereka …

Leave a Reply