JUMAT BIASA XVI, 28 Juli 2017

Antifon Pembukaan – Mazmur 19:9

 Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati.
Perintah Tuhan itu murni, membuat mata berseri.

Pengantar

Tuhan mengajak kita membaca kehendak-Nya dari Taurat. Dalam penjelasan perumpamaan penabur ternyata tawaran Tuhan mengharapkan jawaban pribadi kita. Tanah subur di perlukan agar benih dapat tumbuh dan berkembang. Kesepuluh perintah Allah akan sangat membantu.

Doa Pembukaan

Marilah bedoa:
Allah Bapa sumber kebenaran,
sabda-Mu jujur dan benar untuk selamanya.
Semoga Kautanam dalam-dalam di hati kami,
agar kami semakin yakin, bahwa Engkau beserta kami.
Demi Yesus Kristus, ….

Bacaan Pertama – Keluaran 20:1-17
Wahyu nyata yang pertama adalah ‘perintah Allah’. Perintah itu sebenarnya dapat dikatakan bersifat ‘pribadi’ sebab Tuhan bersabda kepada umat-Nya dan menyapa dengan kata ‘engkau’. Berdasarkan kebebasan manusia Tuhan mengajak menganggap perintah itu sebagai kehendak Allah, agar manusia dapat bersatu dengan-Nya.

“Hukum telah diberikan melalui Musa.”

Pembacaan dari Kitab Keluaran:
Di Gunung Sinai Tuhan bersabda demikian, “Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Janganlah ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu barang yang menyerupai apa pun yang ada di langit, di atas di bumi atau di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya. Sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan bapa ke dalam diri anak-anaknya dalam keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Selama enam hari engkau bekerja, dan melakukan segala pekerjaanmu. Tetapi hari ketujuh adalah Sabat Tuhan, Allahmu. Maka janganlah melakukan suatu pekerjaan, engkau sendiri atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ada di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan pada hari ketujuh Ia beristirahat. Itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Hormatilah ayah dan ibumu, agar umurmu panjang di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu.
Jangan mengingini rumah sesamamu.
Jangan mengingini isterinya, hamba sahayanya, lembu atau keledainya, atau apa pun yang dimiliki sesamamu.”

Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

Tanggapan – Mazmur 19:8.9.10.11

Ref. Tuhan, Engkau memiliki sabda kehidupan abadi.

Mazmur:
 Taurat Tuhan itu sempurna,
menyegarkan jiwa;
peraturan Tuhan itu teguh,
memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

 Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati;
perintah Tuhan itu murni, membuat mata cerita.

 Takut akan Tuhan itu suci,
tetap untuk selama-lamanya;
hukum-hukum Tuhan itu benar,
adil selalu.

 Lebih indah daripada emas,
bahkan daripada emas tua;
dan lebih manis daripada madu,
bahkan daripada madu-tetesan dari sarang lebah.

BAIT PENGANTAR INJIL lh. Luk 8:15

S: Alleluya. U: Alleluya.
S: Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah
dalam hati yang baik dan tulus ikhlas,
dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
U: Alleluya.

Bacaan Injil – Matius 13:18-23
Yesus memberikan penjelasan tentang penabur benih. Intinya setiap orang harus menyediakan tanah di dalam hati untuk menerima benih baik dari Tuhan, yaitu sabda-Nya. Selain itu, diajak juga membuang wadas dan duri dari dalam hati.

“Orang yang mendengarkan sabda dan mengerti, menghasilkan buah.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Dengarkanlah arti perumpamaan tentang penabur. “Setiap orang yang mendengar sabda tentang Kerajaan Surga dan tidak mengerti, akan didatangi si jahat, yang akan merampas apa yang ditaburkan dalam hatinya. Itulah benih yang jatuh di pinggir jalan.

Benih yang ditaburkan di tanah berbatu-batu ialah orang yang mendengar sabda itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan hanya tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena sabda itu, orang itupun segera murtad.

Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu, lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan, Sehingga tidak berubah.

Sedangkan yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda.”

Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus

Doa Persembahan

Allah Bapa mahakudus,
semoga kami Kauberkati
dengan buah tanaman gandum dan anggur;
semoga kami Kauberkati dengan Roh Yesus, Putra-Mu,
yang berada di tengah-tengah kami.
Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.

Antifon Komuni – Matius 13:23

 Benih yang tertabur di tanah subur,
ialah orang yang mendengarkan warta itu,
memahaminya dan menghasilkan buah,
ada yang seratus, enam puluh, dan tiga puluh ganda.

Doa Sesudah Komuni

Marilah berdoa:
Allah Bapa sumber kebenaran,
kami bersyukur atas sabda
yang telah Kausampaikan kepada kami
melalui Yesus, Saudara kami se-Bapa.
Semoga sabda itu menghasilkan buah melimpah
dan membuat gembira semua orang.
Demi Kristus, ….

Tinggalkan Balasan